Ilalang Malang
Subuh yang pekat dengan hawa dingin
yang menusuk sampai ketulang, terasa tak
asing lagi bagiku. Mungkin karena suasana ini sudah begitu akrab dengan ku. Di
pagi yang pekat itulah biasanya aku menunggu
suara adzan yang keluar dari sebuah benda berbentuk kotak. Benda ini begitu
berharga bagi keluargaku karena kami tahu banyak kabar dari kota melalui benda
inilah. Setiap selesai sholat tahajud biasanya aku tidak melanjutkan tidur, aku
mengaji sampai subuh datang. Aku mengaji tanpa bersuara. Pagi inipun begitu, aku
menunggu adzan subuh dari Radio Serasan. Biasanya aku tidak sendirian menunggu
adzan berkumandang karena teman-teman jangkrik akan turut bernyanyi riang
menunggu adzan. Setelah adzan
berkumandang jangrik-jangkrik itu akan berhenti bernyanyi. Entahlah… mungkin mereka juga mau sholat subuh.
***
Aku duduk di bawah pohon rambutan,
sesekali kulihat ilalang yang menari-nari di terpa angin. Aku berpikir, ilalang
itu pasti tidak punya tujuan. Lihat saja, dia bahkan tak tau menentukan arah,
hanya menurut saja pada perintah sang angin yang membawanya kesana kemari. Kuarahkan
pandanganku pada punggung Emak dan Bak, dari kejauhan sesekali mereka meluruskan badannya kemudian
membongkokkan badannya lagi. Ya… ini adalah musim bertanam padi di desaku. Emak dan Bak bekerja tak kenal lelah, mereka hanya berhenti saat adzan
berkumandang dan saat makan siang. Terasa begitu ngilu hati ini tiap kali
melihat tubuh kurus mereka harus
bertaruh dengan waktu demi mendapatkan sesuap nasi. itupun tidak semua hasil
panen menjadi milik kami. Setelah panen separuh
hasilnya harus kami berikan pada pemilik tanah. Yang paling membuat aku sedih
adalah kondisi Bak yang akhir-akhir
ini sering sakit. Aku takut membayangkan kalau-kalau Bak meninggalkan kami.
“Lina, ambekkan
Emak minum”
suara Emak berkumandang di tengah terik matahari. Aku bergegas mengambilkan
sebotol air minum, kemudian berjalan menuju tempat Emak bertanam. Kulihat Emak begitu kehausan, dia hampir
menghabiskan minumannya. Sementara Bak, kulihat masih tampak bersemangat bertanam,
sesekali dia batuk dan memegang dadanya, mungkin dada Bak terasa sakit.
“Lina, kaban balek ke dusun, beli minyak tanah, duitnye ade di dalam sangkau
kusekan.” Pinta Emak
aku mengangguk perlahan.
Kemudian aku mengarahkan telunjukku pada
Gita dan Nopan, pertanda aku mau mengajak mereka ke dusun juga. Emak mengerti
permintaanku, dia langsung mengangguk dan
tersenyum. Seperti biasa Emak yang
paling mengerti dengan bahasa isyarat yang ku berikan.
***
“ Behape liter?” Tanya bu Annida
Aku menunjukkan 2 jari tanganku. Kulihat
Gita dan Nopan begitu senang menonton
film kartun di televisi bu Annida yang letaknya
di dalam toko. Aku tersenyum melihat mereka berdua. Mereka jarang sekali
menonton televisi itulah alasan kenapa tiap kali ke desa aku mengajak mereka
karena biasanya pedagang menaruh televisi di dalam tokohnya sebagai salah satu
daya tarik.
Tanpa sengaja kaki Gita menyandung
kaki anak bu annida yang sedang lewat. Sontak anak itu terjatuh dan langsung
menangis Kulihat wajah Gita sangat ketakutan karena bu Annida menatap wajahnya
dengan tajam. Bu Annida melihat kaki
anaknya memar. Dia langsung marah-marah.
“kalu nak nunton jangan di depan duahe, lah miskin dek tau diri”
teriak bu Annida.
Aku langsung memagang tangan kedua
adikku dan mengajaknya pulang.
***
Aku bergegas
kembali kekebun. Ya.. kebun sekaligus rumah buat keluargaku. Begitu susah
mencari tumpangan perahu. Semenjak jembatan yang menghubungkan desa Penanggiran dengan
kebun-kebun warga putus, warga desa harus
menggunakan perahu. Sebelum terpilih menjadi bupati, Pak bupati berjanji akan
memperbaiki jembatan seandainya dia terpilih. Sekarang sudah satu tahun lebih
masa jabatannya namun tak terjadi apa-apa dengan jembatan desa kami.
Aku
lihat lagi wajah Gita, dia masih pucat dan ketakutan. Rasannya hatiku
begitu pedih melihatnya. Seandainya saja
kita masih di rumah yang dulu. Adik-adikku pasti bisa menonton TV dengan nyaman
tanpa takut akan ada orang yang memarahi. Tiba-tiba lamunanku terhenti karena ada yang memanggil.
“Lina, kalu nak tumpangan kekebon bayar seribu makmane galak dide?
Anto menawarkan ojek perahunya. Aku
terdiam sejenak, pikirku di dunia ini memang tidak ada yang gratis. Aku
mengangguk saja.
***
Pandanganku tertuju pada matahari,
aku sering sekali menantangnya dengan memandangnya begitu lama, namun aku
selalu kalah. Terkadang aku menyalahkan nasib atas semua yang terjadi. Dulu
kita mempunyai sebuah rumah di desa namun karena kecelakaan 3 tahun lalu di
dalam sebuah angkot ketika Bak dan
aku mau kepasar, kita harus menjual rumah kita untuk biaya rumah sakit.. Bak harus dibawah kerumah sakit dan
menghabiskan banyak uang, sementara aku kehilangan suaraku. Kata dokter itu
karena shock waktu kecelakaan.
Setamat SD aku tidak melanjutkan sekolah karena ayah tidak mempunya biaya untuk
menyekolahkanku. Sejak saat itu keluarga
kami terpaksa hidup di kebun milik tetanggaku.
***
Malam ini pun terasa sama seperti
malam sebelumnya tidak ada suara manusia. Hanya terdengar suara jangkrik dan suara
burung hantu yang seolah saling tak mau kalah. Kulihat Mak, Bak dan kedua adikku
sudah tertidur pulas. Hari ini kondisi Bak
tidak sehat, sepanjang bertanam Bak
terus batuk disertai sesak nafas. Aku senang sekali melihat Bak bisa tertidur pulas. Kuharap saat
dia terbangun esok kondisinya sudah sehat. Aku membuka pintu pundok , kemudian kuarahkan pandangnku
pada kerlipan bintang. Begitu indah, bintang-bintang itu menggantung di langit.
Aku pikir alangkah agungnya yang menciptakannya.
Malam mengiring mimpiku berkelana ke tempat yang tidak aku ketahui,
entahlah tempat itu terasa begitu asing, begitu sepi. Kemudian aku melihat Bak muncul dari belakang pepohonan dan melambaikan
tangannya. Aku ingin sekali berteriak tapi rasanya lidahku begitu keluh. Terus
aku coba namun tetap tak bisa. Aku menangis. Aku ingin berteriak agar Bak jangan pergi. Aku
memejamkan mataku dan mengumpulkan semua tenaga kemudian berteriak
“Bak….”
Tiba-tiba aku terbangun. Perlahan,
kulihat Emak menahan tangis
disamping tubuh Bak. Aku bingung
kenapa Emak menangis. Aku bangun
perlahan dan kesentuh tubuh Bak.
Tubuhnya begitu kaku. Aku tidak tahan menahan tangis dan berteriak
“Bak…”
Entahlah.. tiba-tiba aku bisa
berteriak dengan suara lantang.
***
Sudah sebulan Bak pergi. Kini aku dan Mak
harus bekerja banting tulang untuk kehidupan kami. Karena saat ini Bak tidak ada lagi, jadi kami harus
berjuang lebih keras lagi. Meskipun kini suaraku sudah kembali tapi aku tetap
seperti ilalang malang yang tidak tahu hidup kedepannya akan bagaimana. Tapi
aku berjanji selama aku bernafas tidak
akan kusia-siakan hidup yang sudah Tuhan berikan untukku.
Kireihana
Arma
Emak: Ibu
Bak:Ayah
Pundok: rumah yang berukuran sangat kecil dan
biasanya digunakan untuk beristirahat di
kebun.
Ambekkan:
ambilkan
Balek:
pulang
Sangkau
kusekan: kotak korek api kayu
Kaban:
kamu
Ade:
ada
Duitnye:
uangnya
Behape
liter: berapa liter
Kalu
nak nunton jangan di depan duahe: kalau mau nonton jangan di depan pintu.
La
misken dek tau diri: sudah miskin tidak tahu diri.
Kalu
nak tumpangan ke kebon bayar seribu: kalau mau tumpangan ke kebun bayar seribu.
Makmane
galak: gimana mau
Tidak ada komentar:
Posting Komentar