Sabtu, 11 Februari 2012


Ilalang Malang

Subuh yang pekat dengan hawa dingin yang menusuk sampai ketulang, terasa  tak asing lagi bagiku. Mungkin karena suasana ini sudah begitu akrab dengan ku. Di pagi yang pekat itulah biasanya  aku menunggu suara adzan yang keluar dari sebuah benda berbentuk kotak. Benda ini begitu berharga bagi keluargaku karena kami tahu banyak kabar dari kota melalui benda inilah. Setiap selesai sholat tahajud biasanya aku tidak melanjutkan tidur, aku mengaji sampai subuh datang. Aku mengaji tanpa bersuara. Pagi inipun begitu, aku menunggu adzan subuh dari Radio Serasan. Biasanya aku tidak sendirian menunggu adzan berkumandang karena teman-teman jangkrik akan turut bernyanyi riang menunggu adzan.  Setelah adzan berkumandang jangrik-jangkrik itu akan berhenti bernyanyi. Entahlah… mungkin  mereka juga mau sholat subuh.


***
Aku duduk di bawah pohon rambutan, sesekali kulihat ilalang yang menari-nari di terpa angin. Aku berpikir, ilalang itu pasti tidak punya tujuan. Lihat saja, dia bahkan tak tau menentukan arah, hanya menurut saja pada perintah sang angin yang membawanya kesana kemari. Kuarahkan pandanganku pada punggung Emak dan Bak, dari kejauhan  sesekali mereka meluruskan badannya kemudian membongkokkan badannya lagi. Ya… ini adalah musim bertanam padi di desaku. Emak dan Bak bekerja tak kenal lelah, mereka hanya berhenti saat adzan berkumandang dan saat makan siang. Terasa begitu ngilu hati ini tiap kali melihat   tubuh kurus mereka harus bertaruh dengan waktu demi mendapatkan sesuap nasi. itupun tidak semua hasil panen menjadi milik kami. Setelah  panen separuh hasilnya harus kami berikan pada pemilik tanah. Yang paling membuat aku sedih adalah kondisi Bak yang akhir-akhir ini sering sakit. Aku takut membayangkan kalau-kalau Bak meninggalkan kami.

“Lina,  ambekkan Emak minum”

suara Emak berkumandang di tengah terik matahari. Aku bergegas mengambilkan sebotol air minum, kemudian berjalan menuju tempat Emak bertanam. Kulihat Emak begitu kehausan, dia hampir menghabiskan minumannya. Sementara Bak,  kulihat masih tampak bersemangat bertanam, sesekali dia batuk dan memegang dadanya, mungkin dada Bak terasa sakit.

“Lina, kaban balek ke dusun, beli minyak tanah, duitnye ade di dalam sangkau kusekan.”  Pinta  Emak

aku mengangguk perlahan. Kemudian  aku mengarahkan telunjukku pada Gita dan Nopan, pertanda aku mau mengajak mereka ke dusun juga. Emak mengerti permintaanku, dia  langsung mengangguk dan tersenyum. Seperti biasa Emak yang paling mengerti dengan bahasa isyarat yang ku berikan.



***
Behape liter?” Tanya bu Annida

Aku menunjukkan 2 jari tanganku. Kulihat  Gita dan Nopan begitu senang menonton film kartun di televisi bu Annida yang letaknya  di dalam toko. Aku tersenyum melihat mereka berdua. Mereka jarang sekali menonton televisi itulah alasan kenapa tiap kali ke desa aku mengajak mereka karena biasanya pedagang menaruh televisi di dalam tokohnya sebagai salah satu daya tarik.

Tanpa sengaja kaki Gita menyandung kaki anak bu annida yang sedang lewat. Sontak anak itu terjatuh dan langsung menangis Kulihat wajah Gita sangat ketakutan karena bu Annida menatap wajahnya dengan tajam.  Bu Annida melihat kaki anaknya memar. Dia  langsung marah-marah.

kalu nak nunton jangan di depan duahe, lah miskin dek tau diri” teriak bu Annida.

Aku langsung memagang tangan kedua adikku dan mengajaknya pulang.




***
Aku bergegas kembali kekebun. Ya.. kebun sekaligus rumah buat keluargaku. Begitu susah mencari tumpangan perahu. Semenjak  jembatan yang menghubungkan desa Penanggiran dengan kebun-kebun warga  putus, warga desa harus menggunakan perahu. Sebelum terpilih menjadi bupati, Pak bupati berjanji akan memperbaiki jembatan seandainya dia terpilih. Sekarang sudah satu tahun lebih masa jabatannya namun tak terjadi apa-apa dengan jembatan desa kami.

Aku  lihat lagi wajah Gita, dia masih pucat dan ketakutan. Rasannya hatiku begitu pedih melihatnya. Seandainya  saja kita masih di rumah yang dulu. Adik-adikku pasti bisa menonton TV dengan nyaman tanpa takut akan ada orang yang memarahi. Tiba-tiba lamunanku  terhenti karena ada yang memanggil.

“Lina, kalu nak tumpangan kekebon bayar seribu makmane galak dide?

Anto menawarkan ojek perahunya. Aku terdiam sejenak, pikirku di dunia ini memang tidak ada yang gratis. Aku mengangguk saja.



***
Pandanganku tertuju pada matahari, aku sering sekali menantangnya dengan memandangnya begitu lama, namun aku selalu kalah. Terkadang aku menyalahkan nasib atas semua yang terjadi. Dulu kita mempunyai sebuah rumah di desa namun karena kecelakaan 3 tahun lalu di dalam sebuah angkot ketika Bak dan aku mau kepasar, kita harus menjual rumah kita untuk biaya rumah sakit.. Bak harus dibawah kerumah sakit dan menghabiskan banyak uang, sementara aku kehilangan suaraku. Kata dokter itu karena shock waktu kecelakaan. Setamat SD aku tidak melanjutkan sekolah karena ayah tidak mempunya biaya untuk menyekolahkanku. Sejak  saat itu keluarga kami terpaksa hidup di kebun milik tetanggaku.



***
Malam ini pun terasa sama seperti malam sebelumnya tidak ada suara manusia. Hanya terdengar suara jangkrik dan suara burung hantu yang seolah saling tak mau kalah. Kulihat Mak, Bak dan kedua adikku sudah tertidur pulas. Hari ini kondisi Bak tidak sehat, sepanjang bertanam Bak terus batuk disertai sesak nafas. Aku senang sekali melihat Bak bisa tertidur pulas. Kuharap saat dia terbangun esok kondisinya sudah sehat. Aku membuka pintu pundok , kemudian kuarahkan pandangnku pada kerlipan bintang. Begitu indah, bintang-bintang itu menggantung di langit. Aku pikir alangkah agungnya yang menciptakannya.

Malam mengiring mimpiku  berkelana ke tempat yang tidak aku ketahui, entahlah tempat itu terasa begitu asing, begitu sepi. Kemudian aku melihat Bak muncul dari belakang pepohonan dan melambaikan tangannya. Aku ingin sekali berteriak tapi rasanya lidahku begitu keluh. Terus aku coba  namun tetap tak bisa.  Aku menangis. Aku  ingin berteriak agar Bak jangan pergi.  Aku memejamkan mataku dan mengumpulkan semua tenaga kemudian berteriak

Bak….”

Tiba-tiba aku terbangun. Perlahan, kulihat  Emak  menahan tangis disamping tubuh Bak. Aku bingung kenapa Emak menangis. Aku bangun perlahan dan kesentuh tubuh Bak. Tubuhnya begitu kaku. Aku tidak tahan menahan tangis dan berteriak

Bak…
Entahlah.. tiba-tiba aku bisa berteriak dengan suara lantang.


***
Sudah sebulan Bak pergi. Kini aku dan Mak harus bekerja banting tulang untuk kehidupan kami. Karena saat ini Bak tidak ada lagi, jadi kami harus berjuang lebih keras lagi. Meskipun kini suaraku sudah kembali tapi aku tetap seperti ilalang malang yang tidak tahu hidup kedepannya akan bagaimana. Tapi aku  berjanji selama aku bernafas tidak akan kusia-siakan hidup yang sudah Tuhan berikan untukku.

Kireihana Arma

Emak: Ibu
Bak:Ayah
Pundok:  rumah yang berukuran sangat kecil dan biasanya digunakan untuk  beristirahat di kebun.
Ambekkan: ambilkan         
Balek: pulang
Sangkau kusekan: kotak korek api kayu
Kaban: kamu
Ade: ada
Duitnye: uangnya
Behape liter: berapa liter
Kalu nak nunton jangan di depan duahe: kalau mau nonton jangan di depan pintu.
La misken dek tau diri: sudah miskin tidak tahu diri.
Kalu nak tumpangan ke kebon bayar seribu: kalau mau tumpangan ke kebun bayar seribu.
Makmane galak: gimana mau

Tidak ada komentar:

Posting Komentar