Minggu, 29 Juli 2012

Bertemu Sang Jenderal


                                    Bertemu Sang Jenderal

Kegelapan malam segera di lumat oleh cahaya siang. Tampak matahari dengan gagahnya menantang dunia,  menunjukkan keperkasaanya dan seolah-olah menyampaikan pesan bahwa tak ada satupun di dunia ini yang mampu menyaingi keperkasaannya.
Seperti biasa, pagi ini emak sudah siap-siap  mau berkeliling menjual  kue dan gorengan. Ku perhatikan lagi tubuh emak yang sudah rentah itu, dia pun  menatap ku balik

 “Jangan memandangi  emak begitu, ayo siap-siap! Rahmat mau cari botol-botol plastik juga kan hari ini?” Ujar mak dengan sunggingan senyum di bibirnya

Aku mengangguk saja, batinku rasanya mau menjerit. Ku tahan air mata yang hampir jatuh di kedua bolah mataku, aku tak mau mak  tahu tentang kesedihanku. Aku tahu kalau hidupnya sudah kumpulan penderitaan, aku tak perlu menambahnya lagi. Emak adalah sosok seorang ibu yang selalu kuat meskipun terkadang ku tangkap raut wajah kelelahannya.  Terkadang jualan emak sama sekali tak laku, karena emak harus bersaing dengan penjual-penjual lainnya yang umurnya jauh lebih muda sehingga energi dan semangat mereka lebih besar dalam berjualan. Namun emak tak penah mengeluh sedikitpun. Ya, semenjak bapak meninggalkan kami mengahadap yang kuasa, emak dan aku harus berjuang keras menjalani kehidupan yang selalu menunjukkan taringnya pada yang lemah.


@@@
           
Semua orang sibuk dengan kegiatan masing-masing, mereka tak saling pedulikan. Mahasiswa-mahasiswa yang bergegas mengejar angkot karena takut telambat, Orang-orang yang berlalu lalang  seolah waktu 24 jam tak cukup untuk menyelesaikan pekerjaannya. Tampak riuh di pasar pagi Timbangan, terdengar dengan jelas orang-orang  menawar harga sayur-mayur yang harganya dianggap terlalu mahal. Ya… begitulah suasana kota Indralaya, yang didalamnya terdapat banyak mahasiswa UNSRI yang intelek. Aku selalu berharap mereka nanti dapat  mengubah nasib bangsa yang sudah carut marut ini.

Aku berjalan menyusuri jalan di Timbangan, berharap akan banyak botol-botol plastik yang aku temukan, Sehingga malam ini perutku tidak akan mengoceh karena haknya yang tak terpenuhi.

Aku  berbisik pada perutku “Jangan mengeluh terus, aku saja tidak mengeluh pada Negara ini yang katanya fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh Negara. Menurutku jangankan di pelihara, diperhatikan saja tidak. Tapi aku maklum, mungkin orang-orang diatas sana pada sibuk semua mengurusi Negara.  Mungkin.. ya, masih Mungkin.”

Aku  sering berimajinasi, masuk dalam salah satu barisan mahasiswa UNSRI  yang berorasi menuntut kesejahteraan pada Negara ini. Tapi ah… sudahlah, Sejak aku berhenti kelas dua SMP, aku mau mengubur mimpi-mimpiku, mimpi menjadi salah satu yang bisa membangkitkan Negara yang sedang tertidur pulas ini. Mimpi bisa seperti pak Sudirman yang menaruhkan jiwa dan raganya demi bangsa tercinta ini. Jujur, dalam lubuk hatiku yang paling dalam, kecintaanku pada sosok  perkasa itu tak pernah mati, meskipun aku berusaha mengubur mimpi-mimpiku.

Tiba-tiba Langkahku terhenti di depan sebuah warnet, aku melihat sebuah makalah dalam kotak sampah, ku dekati perlahan, kemudian ku ambil makalah tersebut. Sekejap kulirik orang-orang di dalam warnet yang memperhatikanku, aku pura-pura cuek saja, aku tahu di pikiran mereka  pasti alangkah kasihannya anak seumuranku bekerja sebagai pemulung. Ya, seharusnya sekarang aku duduk di bangku kelas dua SMA. Tapi sudahlah… aku bergegas pergi, aku tak mau di kasihani. Aku  mau mencoba selalu mensyukuri apapun yang sudah Tuhan berikan padaku.


  @@@

Kurebahkan Tubuhku di ranjang yang sudah tidak layak lagi di di gunakan, aku buka makalah yang tadi pagi aku temukan, setelah kulihat secara seksama ternyata makalah itu berisi tentang pertempuran di Ambarawa, betapa terkejutnya aku  ternyata didalamnya terdapat gambar pahlawan yang sangat aku kagumi, Ya… Jenderal Sudirman. Aku pandangi lagi, oh… ternyata dia makin perkasa, Dia seolah-olah tersenyum padaku dan aku pun membalas senyumnya dengan senyum termanis yang aku punya. Aku robek lembar makalah yang di dalamnya terdapat sang jenderal, kemudian aku letakkan didadaku. Aku menghela napas panjang  sembari tersenyum, mensyukuri semua yang telah ku dapat hari ini.

                                                            @@@

Aku duduk di bawah sebuah pohon Akasia, ku rebahkan tubuhku yang kelelahan karena bekerja seharian mencari botol-botol plastik. Aku memandang ke langit, melihat gumpalan-gumpalan Putih di langit, yang membentuk berbagai macam rupa, ku imajinasikan gumpalan putih itu membebentuk wajah teduh emak. kemudian aku  mengimajinasikan gumpalan putih di sampingnya menjadi sosok idolaku, tapi tiba-tiba muncul seseorang, dia berdiri menundukkan kepalanya  memandangku  dengan begitu tajam. Aku terkejut jantungku begitu cepat berdetak. Aku segera berdiri dan mencium tangannya. Oh… terasa begitu hangat. Dia mengajakku berjalan-jalan sambil mengobrol, aku terheran-heran memandangnya, sepertinya ia benar-benar tahu siapa aku padahal kita belum pernah bertemu sebelumnya. Dia mengajakku duduk di sebuah lapangan  kemudian memandang matahari, aku memandang raut mukanya  dengan penuh kekaguman.

“Rahmat, kamu mencintai negeri ini?” tanyanya padaku, aku terkejut dia tahu namaku padahal aku belum memberi tahunya.

“Iya, aku sangat mencintainya” Jawabku sambil memandang wajahnya yang tetap fokus memandang matahari.

“Apa bukti kalau kamu cinta pada negeri ini?” Tanyanya  lagi padaku

“Bukti…” Aku kebingungan mau menjawab apa, raut mukaku menjadi muram

“Kamu bingung? mencintai bukan berarti tanpa pengorbanan, kalau kamu mencintai negeri ini maka buktikan.”

“Aku  tidak bisa membuktikan dengan apapun, aku juga tidak bisa melakukan apapun, aku ini hanya anak putus sekolah yang harus menjadi pemulung demi mencukupi kebutuhan keluarga.” Ujarku dengan menundukkan muka.

“Kau menyesal putus sekolah dan menjadi seorang pemulung?” Kali ini dia memalingkan pandangannya dari matahari dan menatap wajahku.
Aku mengangguk perlahan, kedua bola mataku tak bisa berpaling memandangnya.

“Kau tahu dengan harapan apa para pejuang rela mempertaruhkan jiwa dan harta mereka, Mat?”
 Dia memandangku semakin tajam, kedua bola matanya menggambarkan keperkasaannya. Aku tidak mampu berkata apapun.

“Dengan harapan agar anak cucu mereka tidak mengalami nasib yang sama seperti mereka, tidak mengalami yang namanya pengekangan kebebasan, pengambilan hak, dan agar tidak di perlakukan semena-mena, tapi apa yang terjadi sekarang? yang  kuat suka memperlakukan yang  lemah dengan semena-mena, yang berkuasa sering mengabaikan hak yang lemah yang lebih menyakitkan itu di lakukan oleh orang bangsa kita sendiri. Tapi kita para pejuang tetap berharap akan ada  pemuda-pemuda yang nanti akan mewarisi semangat kita para pejuang,  mencintai Negeri ini dengan penuh  ketulusan tanpa  mengharapkan iming-iming apapun.”  Dia kembali memandang matahari

Aku mencoba memberanikan diri bertanya dengan sosok gagah di dekatku ini  “Tapi apa yang bisa di lakukan oleh anak muda yang bahkan tidak tamat SMP sepertiku” tanyaku padanya

dia masih memandang matahari, aku berharap dia akan menatapku lagi dan aku bisa memandang kedua bola matanya. 

“Dengan apapun yang bisa kamu lakukan. Kamu pikir dengan membantu ibumu membuat kue dan gorengan setiap pagi bukan pahlawan? Dengan menjadi pemulung dan memunguti sampah-sampah botol plastik bukan pahlawan? Yang bisa menjadi pahlawan itu bukan hanya orang yang mempunyai kekuasaan, kamu bisa lihat sendiri kan, kebanyakan dari mereka jadi lupa diri karena kekuasaan. Itu yang disebut pahlawan? Pahlawan adalah orang yang mencintai negeri ini dengan tulus tanpa mengharapkan iming-iming apapun. Pahlawan adalah orang-orang yang bekerja dengan tulus, berharap apa yang dia lakukan bermanfaat bagi orang di sekitarnya, Itulah Pahlawan.”

 Aku tertegun mendengar kata-katanya. Aku tak bisa berkata apapun, bibirku rasanya terkunci karena ucapannya. Kulihat kedua bola matanya berkaca-kaca. Oh.. betapa inginnya aku membuat dia bangga padaku.

“Mulai sekarang lakukan apapun yang bisa bermanfaat bagi dirimu dan juga bagi orang lain, minimal bagi orang-orang di sekitarmu, karena saat ini yang Indonesia butuhkan adalah orang yang mau membantu membangkitkan Indonesia. sekecil apapun perannya maka akan sangat besar artinya.

@@@
            Allahuakbar…Allahuakbar…. Adzan subuh berkumandang mengajak manusia menghadap Tuhannya. Aku terbangun seluruh tubuhku basah oleh keringat, kudapati gambar Jenderal sudirman tetap kudekap didadaku, aku baru tersadar bahwa aku barusan bermimpi bertemu denganya, bertemu dengan sang Jenderal yang gagah perkasa. Aku tersenyum bangga,  Karena aku telah bertemu dengan idolaku itu, Meskipun hanya dalam mimpi. sekarang aku dapat dengan gagah menyongsong hari-hariku karena ternyata  apa yang selama ini aku lakukan dapat bermanfaat bagi orang lain, ya… mengambil sampah- sampah botol plastik membantu  tempat kelahiranku ini terlihat bersih.
           
Aku mengangkat kedua belah tanganku  “Ya Allah terima kasih atas semua yang telah engkau berikan padaku.” Tanpa ku sadari kedua bola mataku meneteskan air mata.
            Aku beranjak dari tempat tidur untuk mengambil wudhu, perasaanku begitu menang pagi ini. Aku merasakan ada semangat yang berkobar dalam dadaku.  “Ya… semangat ini yang aku butuhkan.”  lirihku sambil tersenyum.


Minggu, 12 Februari 2012

Hah... Hukuman Itu Lagi

                        HAH…. HUKUMAN ITU LAGI?

Hari ini adalah hari pertama aku masuk kuliah. Aku sangat deg-degan, terutama hari ini adalah hari pertama aku mengikuti Ospek. Aku sering mendengar kalau senior sering berlaku sewenang-wenang pada juniornya, hal itulah yang membuatku sangat takut. Ketakutanku sangat beralasan karena waktu aku menjalani masa orientasi ketika SMP, aku pingsan karena disuruh membersihkan WC siswa yang baunya bahkan tidak akan hilang meskipun dibersihkan selama tiga hari. Saat itu aku dihukum karena lupa membawa tas karung yang merupakan syarat selama mengikuti MOS.
                                                            ***
Semua mahasiswa baru berkumpul di bawah sebuah tenda yang telah disediakan oleh panitia Ospek. Setelah beberapa saat mendapat pengarahan oleh panitia, semua mahasiswa baru mengikuti  panitia dari masing-masing fakultas.  Saya dan Nia teman yang baru saya kenal ketika sama-sama melakukan registrasi ulang mengikuti panitia Ospek dari Fakultas Ekonomi. kebetulan kita berdua juga berada di jurusan yang sama yaitu jurusan ekonomi manajemen.

Kami semua berkumpul di sebuah  lapangan, terdengar suara yang sepertinya aku kenal tapi aku pikir tidak mungkin pasti hanya perasaanku saja, karena ketakutanku menjalani Ospek. 

Aku berbisik pada Nia, “Siapa yang sedang berbicara didepan?” tanyaku padanya.
Ternyata dia pun tidak tahu karena di belakang kami tidak bisa melihat.

Aku mencoba menanyakan pada mahasiswa yang berada didepan  kami, “maaf mau tanya yang berbicara di depan itu siapa ya”

“Itu  Kak Satria, dia itu Gubma Mbak,” jawabnya dengan aksen Jawa yang medok.

“Oh… Gubma”
Gubma adalah sebutan untuk gubernur mahasiswa yang memimpin organisasi tertinggi di fakultas yang biasa disebut  BEM atau badan eksekutif mahasiswa. bukannya pura-pura tidak tahu tapi aku dan Nia memang benar-benar tidak tahu, dari tadi kami tidak bisa fokus karena cuacanya sangat panas, terlebih lagi posisi kami berdua yang berada dibelakang. Jadi, tidak bisa melihat orang yang sedang berbicara di depan. Yang terbayang di pikiranku hanyalah bagaimana caranya aku bisa pergi dari sini dan mendapatkan sebotol minuman.

Selesai mendapatkan pengarahan kami disuruh berkumpul pada  PJ masing-masing sesuai dengan yang telah ditentukan ketika TM (technical meeting). kebetulan aku dan Nia dalam satu grup yang sama, grup pantang mundur.  Celakanya hari itu aku lupa membawa kalung yang terbuat dari bawang merah dan bawang putih. Aku baru ingat kalau aku menaruhnya di bawah kolom tempat tidur selesai membuatnya. Aku tidak menyukai bau bawang putihnya makanya aku taruh saja disana.

Aku benar-benar deg-degan, yang ada dalam pikiranku jangan sampai aku disuruh membersihkan WC karena aku benar-benar benci hukuman itu.  Aku berbisik pada Nia kalau kalungku ketinggalan.  Akhirnya dia memberiku solusi untuk sementara waktu aku tinggal di            WC pura-pura mau pipis setelah pemeriksaan peralatan selesai aku keluar. Aku terima saja sarannya Nia, karena aku pikir tak ada cara lain dari pada nanti sampai ketahuan. Aku minta izin pada PJ mau pergi ke WC. kira-kira 15 menit aku dalam WC, aku benar-benar tidak tahan lagi dengan baunya. Akhirnya aku keluar celakanya aku berpapasan dengan seseorang yang memakai baju panitia Ospek. Aku lihat lagi orang itu tapi semakin aku memandangnya semakin terasa kalau aku mengenalnya. tidak salah lagi dia Satria anggota OSIS yang menghukumku membersihkan WC beberapa tahun silam. Aku lihat lagi wajahnya tampak sunggingan senyum di bibirnya. Aku benci sekali senyum itu karena itu adalah senyuman yang sama ketika dia menghukumku membersihkan WC ketika SMP. Aku dimintanya menghadap PJ grup pantang mundur.  Setelah sampai, dia bertanya dengan gaya  khasnya yang sok keren. Hah… benar-benar  gaya yang tidak berubah, tetap menyebalkan.

“Kenapa kamu tidak bergabung dengan teman-temanmu dan mana peralatan Ospek kamu?” tanyanya dengan nada menbentak.

Aku terdiam sesaat, tubuhku gemetar,  yang ada dipikiranku pastilah aku disuruh membersihkan WC lagi sama orang sinting ini.
” Maaf tadi aku ke WC karena kebelet pipis.”

“kamu kalau pipis lamanya sampai 15 menit. tadi PJ kamu melapor karena kamu masih belum kembali. Kenapa kamu tidak pakai kalung seperti yang lain?”
Bentakannya lebih keras dari yang tadi.

“Kalungya ketinggalan. Aku minta Maaf.”  Nada suaraku terdengar memelas dengan harapan dia bisa memaafkanku.

“Maaf kamu bilang, itu namanya kamu tidak disiplin, tidak menghargai panitia. kamu harus dihukum,  hukuman yang tepat buat kamu adalah…”

Belum selesai dia mengucapkan kata-katanya aku langsung angkat bicara “Membersihkan WC kan? tidak perlu dijelaskan lagi,” dasar orang sinting gumamku dalam hati. Rasanya aku ingin sekali mengatakan kata-kata itu pada orang sombong ini.

Selama membersihkan WC selama itu pula aku  mengoceh tidak karuan. Aku benar-benar benci hukuman ini dan aku juga benci orang yang memberikan hukuman ini.

***
Setelah beberapa minggu kuliah aku mendapat tugas mewawancarai Gubma dengan bahasan bagaimana cara memimpin organisasi yang baik. Benar- benar tugas yang menyebalkan. Kenapa aku mendapat tugas yang berhubungan dengan orang sinting itu lagi.

“Semua ini  gara-gara aku tidak masuk kuliah  rabu kemarin, jadi mau tidak mau cuma itu saja pilihan yang tersisa.

“Enaknya Nia kebagian tugas mewawancarai ketua Rohis, mereka pasti berpikir kalau mereka mengambil tugas mewancarai orang sinting itu bakalan banyak hukuman yang didapat. “Sialnya,” gumamku dengan perasaan kesal”

Setelah mendapatkan alamat kostnya aku langsung menuju kostan si Gubma sinting itu. Seperti yang kubayangkan ini tidak akan menjadi hal yang mudah. Aku mengetuk pintu kostannya, dia membukanya dan langsung menutupnya kembali. Setelah aku memohon-mohon di luar pintu sambil menjelaskan tujuanku tanpa memperhatikan orang-orang disekitar kostan yang sedang memperhatikanku. Aku terus memohon dan akhirnya dia bersedia membukanya dan mengizinkanku masuk.

***
Setelah beberapa hari aku bersamanya ternyata dia tidak seburuk yang aku bayangkan. Memang sih hobinya menghukum orang dan nyuruh-nyuruh tapi dia orangnya cukup baik meskipun bukan sangat baik tapi setidaknya dia cukup mau diajak kerja sama. Pada awalnya dia tidak begitu peduli padaku karena menurutnya aku ini bukan orang yang disiplin dan taat peraturan

Sejak aku mendapatkan tugas mewawancarainya kita berdua cukup dekat Terlebih lagi karena aku suka meminjam bukunya karena kita satu jurusan meskipun dengan berbagai syarat bukunya tidak boleh robek,  tidak boleh ada coretan dan bla…bla… memang menyebalkannya itu tidak mungkin bisa hilang. Aku pikir  kebiasannnya membuat orang kesal adalah  bawaan lahir. Jadi tidak bisa dihilangkan.


***
Hari minggu Satria mengajakku ke sebuah taman pinggir kota, aku sempat menebak-nebak apa yang mau ia katakan padaku sehingga harus membicarakannya di taman. Apa mungkin dia ingin melampiaskan kekesalannya karena meskipun dia memintaku untuk memanggilnya kakak aku tidak pernah melakukannya. Dari SMP aku memanggilnya dengan panggilan Satria meskipun dia merupakan kakak kelasku saat itu dan saat ini aku tetap memanggilanya dengan sebutan Satria mungkin karena kebencianku yang telah mendarah daging makanya aku tidak bisa memangillnya kakak.

 Kulihat dia ketika aku baru memasuki pintu taman, dia duduk di bangku yang di depannya terdapat tanaman mawar. Aku menghampirinya  dan memanggilnya dengan lembut, hal yang tidak pernah kulakukan selama ini padanya. Dia menoleh kebelakang dan terlihat sekali matanya berkaca-kaca dan wajahnya bereri-seri persis seperti bunga mawar yang ada didekatnya. Aku berpikir lagi pertanda apakah ini, dia bahkan jarang tersenyum padaku tapi kali ini dia tersenyum dengan tatapan yang sangat lembut.

“ Duduklah.” Sapanya denga lembut

Aku masih kebingungan dengan sikapnya yang tak biasa itu. Otakku tak mampu menerka apa yang mau dia lakukan. Sepertinya otakku berhenti berfungsi. Entahlah… aku semakin bingung dibuatnya. Dia sepertinya tahu kalau aku sedang bingung dengan perubahan sikapnya.

“Kamu bingung ya? aku mengajak kamu kesini karena aku mau mengatakan sesuatu yang sangat penting sama kamu, hal ini sudah lama ingin aku katakan. Semenjak kedekatan kita karena tugas wawancara, aku mulai yakin kalau kamu adalah cewek yang bisa diandalkan, bisa dipercaya, dan penuh kasih sayang. Ya meskipun pada awalnya pikiranku tentang kamu sangat buruk.” Ujarnya dengan nada suara yang  pelan,

Jantungku berdegup dengan kencang, menanti-nanti apa dia ingin mengungkapakan rasa sukanya sama aku, setelah dia sadar kalau aku bukanlah cewek yang selama ini seperti yang dia anggap, tidak disiplin dan tidak taat aturan. Semenjak mendapat tugas mewawancarainya aku merasa perasaan benciku lama-lama berubah jadi sayang, karena aku sering kangen dengan ocehannya kalau sedang tidak bersamanya.  Tubuhku terasa semakin gemetaran menunggu kata-kata yang akan keluar dari mulutnya.

“Bella sebenarnya aku… aku mau kamu….”

“Iya kamu mau apa? Cepat katakana. aku akan  dengan senang hati menerimanya” ujarku dengan mata yang berbinar-binar sembari disertai sunggingan senyum di bibirku. Itu adalah senyum termanis yang pernah aku berikan pada  makhluk yang namanya laki-laki.

“Baiklah kalau begitu, kemarin kedua orang tuaku membelikan aku rumah. Ya, meskipun sedikit tua tapi masih lumayan bagus, kedua orang tuaku melakukannya agar saat mereka mengunjungiku tidak harus tidur di kostan yang sempit lagi. Aku rasa kamu adalah orang yang bisa diajak berbagi dalam kehidupanku baik susah maupun senang kelak.” Ujarnya sambil menatapku

Aku benar-benar terharu, ternyata dia sudah berpikir sampai  ke sana. Aku pikir itu adalah rumah yang kelak kami akan tinggali setelah menikah. Oh… So sweet

“Bel, dari tadi kamu minta aku mengatakannya kan? Aku mohon kamu mau bersamaku membersihkan rumah itu, karena rumahnya sangat kotor, terutama WCnya benar-benar bau. Aku pikir kamu adalah orang yang cocok untuk membersihkannya.”

Setelah mendengar kata-kata itu yang terbayang dipikiranku hanyalah WC yang baunya tidak bisa hilang meski tiga hari dibersihkan. Aku merasa badanku lemas dan kemudian tidak ingat apa-apa lagi.  Terasa bau minyak kayu putih disekitar hidungku ternyata aku pingsan dan wajah pertama yang aku lihat adalah wajah Satria. saat melihat wajahnya aku langsung teringat WC. Seketika itu juga aku berdiri dan berteriak
                                    “Kabuuuuuuuuuuuuur………………………..”

Sabtu, 11 Februari 2012

Jalanmu Jalanku

JALANMU JALANKU


Rani….
Dalam diamku ku sebut namamu
Dalam tawaku ku ingat wajahmu
Dalam setiap hembus napasku ada
Desah kerinduan akan dirimu
Mengapa rasa ini ada?
Salahkah rasa ini?

Rani…..
Aku yang menunggu mu dalam setiap detik hidupku
Dalam setiap desah napasku
Dalam kerinduan yang tiada berujung

Rani….
Biarkan rasa ini ada
Biarkan rasa ini mewarnai hidupku
Walau kadang terasa sangat menyakitkan
                                                By Fadhil


Rani, ini adalah puisi terakhir yang aku buat untuk kamu karena mungkin setelah ini kita akan jarang bertemu atau malah kamu akn melupakakanaku” ujar fadhil setelah membacakan puisi.

“Fadhil, meskipun kita jauh kitakan masih bisa berkomunikasi lewat tlpn,  Jgn terlalu dibuat rumit. semuanya tidak sesusah yang kamu bayangkan percaya deh sama aku.”

Tapi kita gak tahu apa yang akn terjadi dikemudian hari, apalagi kalau  kamu jauh, bagaimana kalau suatu saat kamu menemukkan seseorang disana yang buat kamu jatu hati. Bagaimana kalau….”

“Rani langsung mengambil alih pembicaraan mereka “ asalkan kita saling pecaya semua akan baik- baik saja pecayalah” Rani mencoba menenangkan Fadhil.

“Rani aku mohon tetaplah disini, kamu bisa mengunjungi ibu kamu beberapa hari terus kembali lagi kesini. Itu adil kan! kamu tetap bisa melihat ibu kamu dan kita bisa tetap bersama”

“Fadhil, aku gak bisa. ibuku sudah sering sakit-sakitan, aku harus disana buat jagain ibu aku sama adik-adiku, aku mohon percayalah kalau emang kita jodoh gak akan lari kemana, kita pasti akan disatukan oleh Tuhan. Kamu jangan terlalu sedih ya.! Fadhil, Sepertinya sebentar lagi keretanya tiba”

Tidak lama kemudian kreta apinya tiba.” Fadhil aku pergi ya, nanti setelah tiba disana aku telpon. Da….”

Rani kemudian masuk kedalam kereta api. Ia pandangi lagi Fadil namun Fadhil terus menundukkan kepalanya. Ia tahu kalau fadhi sedang menagis. Ia akhirnya tidak tahan lagi, air matanya mengalir dipipinya, sudah sejak tadi ia tahan agar ia tidak menangis di depan Fadhil.

                                    @@@

Bintang yang berkilauan seumpama ribuan bidadari yang memancarkan cahaya kesucian sampai kebumi. Mereka bak ingin menyampaikan pesan dari sang khalik tentang sebuah keagungan . Bulan terasa begitu indah menyiratkan sebuah keanggunan penciptaan. mereka seolah-olah ingin menyampaikan bahwa mereka adalah penghias malam yang mampu membawa ketenangan.Dibawah cahaya bulan yang indah bersama taburan bintang yang tampak begitu sempurna, seorang gadis duduk disebuah halaman rumah memandang bulan seraya melamun.
Dia memandang tajam pada  bulan kemudian   menghela napas panjang, seakan ingin membuang semua kegundahahan hatinya. Dia buka lipatan sebuah kertas yang berisi puisi dari Fadhil pacarnya. Itu adalah puisi yang ia terima dari Fadhil saat mereka berpisah di stasiun kereta api. Mereka harus berpisah karena Rani harus pulang kembali ke Surabaya karena ibunya sakit keras. Rani memutuskan untuk kuliah di Universitas yang ada di Surabaya saja dan meninggalnkan Jakarta juga Fadhil.
                                    @@@ 


Seiring  dengan berjalannya waktu mereka semakin jarang berkomunikasi karena sibuk dengan kegiatan masing- masing.  Suatu hari ketika Rani sedang jalan-jalan bersama adiknya tasnya di jambret,  karena kejadian itu Rani kehilangan Hp sejak saat itu dia tidak pernah berkomunikasi lagi dengan Fadhil.   Rani tidak ingat dengan nomor hp fadhil, karena baru beberapa hari yang lalu Fadhil mengirimminya sms nomor HP nya yang baru.  Mereka benar-benar kehilangan komunikasi.


                                                @@@

Setelah lulus  kuliah, Rani diminta ibunya untuk segera menikah karena kondisi ibunya yang sering sakit-sakitan. Rani mencoba menjelaskan pada ibunya bahwa saat ini dia belum memiliki calon yang bisa dijadikan suami. Sebenarnya Rani memang tidak pernah mencari pacar karena dia tidak bisa melupakan Fadhil. kenangan mereka terlalu berarti dan tidak bisa dilupakan begitu saja. Apalagi kalau di harus mengganti posisi Fadhil di hatinya dengan orang lain.

“ Rani, ibu ini sudah tua. Sebelum ibu meninggal ibu ingin melihat kamu menikah. Agar nanti kamu dan suamimu bisa menjaga adik-adikmu.”

“ Bu, Rani bukannya tidak mau menikah  tapi untuk saat ini Rani belum punya calon.” Rani memegang tangan ibunya yang sedang berbaring lemah.

“ Begini nak, kemarin Bu Suherman, teman lama ibu mengunjungi ibu, beliau bercerita tentang keponakannya yang sedang mencari seorang pendamping. Dia bilang kalau keponakannya tidak menuntut banyak syarat, yang penting baik dan pintar memasak sudah cukup. Ya… maksud ibu kalau kamu mau, bagaimana kalau kamu dan keponakan teman ibu itu dijodohkan, agar bisa memepererat tali silaturahmi antara keluarga kita dan keluarga bu suherma.”


“ Rani terserah ibu saja bu, apapun yang membuat ibu bahagia Rani menurut saja.” Rani mencim tangan ibunya matanya berkaca-kaca karena menahan tangis. dalam hatinya berbisik ‘ Fadhil maaf, aku harus menghianati cinta kita tapi aku juga tidak tahu apa kau juga setia atau sekarang malah……”

“ Ada apa nak, sepertinya kamu memikirkan Sesuatu. Apa kamu tidak setuju kalau ibu jodohakan dengan keponakannya Buu seherman.”

“ Tidak bu…Rani Cuma teringat almarhum ayah, kalau dia masih ada pasti ayah senang kalau tahu Rani bakal menikah.”


                        @@@

“ Kak sudah siap belum keluarga Bu Suherman bentar lagi tiba” desak adiknya agar Rani bisa mempercepat dandannya.

“ Iya dek bentar lagi selesai” jawab Rani

Rani keluar dan duduk di Sofa dekat ibu dan adiknya. Hatinya benar-benar deg-degan. Perasaananya berkecamuk, Ia harus menerima calon suaminya dengan hati yang terbuka, namun bayang- bayang wajah Fadhil seolah terus berkelebat dihadapannya.

Terdengar suara pamannya Rani dari luar berteriak ‘ Mbak yu keluarga bu Suherman sudah tiba”
 Rani benar-benar gugup keringatnya mulai bercucuran wajahnya mulai tegang. Ia coba menenangkan hatinya agar ibunya tidak tahu perassannya yang sebenarnya. Rani menundukkan kepalanya  karena menyembunyikan perasaan tegangnya.

“Rani, ini laki-laki yang akn menjadi pendamping hidupmu” suara ibunya membuat Rani mengangkat kepalanya namun yang dia lihat adalah Sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Jantungnya berdetak begitu cepat ketika matanya bertemu pandang dengan mata laki-laki itu.  Tubuhnya terasa bergetar tanpa ia sadari air matanya mengalir membasahi pipinya. Semua orang termangu kebingungan melihat hal tersebut.

“ Fadhil,  kamu benar Fadhil kan? A… a…aku gak nyangka kalau laki-laki itu kamu.” Rani tampak terkejut dan terbata-bata menyusun kalimat yang dia ucapakan.

“ Rani, pribahasa itu benar ya…”

“Pribahasa apa? Tanya Rani sambil mengelap airmatanya.
“pribahasa yang kamu katakan saat kita berpisah dulu. Kamu bilang kalau jodoh tak lari kemana. Dan itu terbukti. Walaupun sudah  5 tahun kita berpisah, namun ternyata Tuhan mempertemukan kita kembali dengan caranya yang indah yang tidak kita duga sebelumnya.”

“ Kamu benar….” Ujar Rani.

Rani memandang kesamping, dia tersenyum pada adiknya yang sudah beranjak dewasa kemudian berkata
“Adikku percayakan jalan yang kamu ambil pada Tuhan, karena Dia akan membuat kamu bahagia dengan caranya. Seperti mbak mu ini.”

Ilalang Malang

Subuh yang pekat dengan hawa dingin yang menusuk sampai ketulang, terasa  tak asing lagi bagiku. Mungkin karena suasana ini sudah begitu akrab dengan ku. Di pagi yang pekat itulah biasanya  aku menunggu suara adzan yang keluar dari sebuah benda berbentuk kotak. Benda ini begitu berharga bagi keluargaku karena kami tahu banyak kabar dari kota melalui benda inilah. Setiap selesai sholat tahajud biasanya aku tidak melanjutkan tidur, aku mengaji sampai subuh datang. Aku mengaji tanpa bersuara. Pagi inipun begitu, aku menunggu adzan subuh dari Radio Serasan. Biasanya aku tidak sendirian menunggu adzan berkumandang karena teman-teman jangkrik akan turut bernyanyi riang menunggu adzan.  Setelah adzan berkumandang jangrik-jangkrik itu akan berhenti bernyanyi. Entahlah… mungkin  mereka juga mau sholat subuh.


***
Aku duduk di bawah pohon rambutan, sesekali kulihat ilalang yang menari-nari di terpa angin. Aku berpikir, ilalang itu pasti tidak punya tujuan. Lihat saja, dia bahkan tak tau menentukan arah, hanya menurut saja pada perintah sang angin yang membawanya kesana kemari. Kuarahkan pandanganku pada punggung Emak dan Bak, dari kejauhan  sesekali mereka meluruskan badannya kemudian membongkokkan badannya lagi. Ya… ini adalah musim bertanam padi di desaku. Emak dan Bak bekerja tak kenal lelah, mereka hanya berhenti saat adzan berkumandang dan saat makan siang. Terasa begitu ngilu hati ini tiap kali melihat   tubuh kurus mereka harus bertaruh dengan waktu demi mendapatkan sesuap nasi. itupun tidak semua hasil panen menjadi milik kami. Setelah  panen separuh hasilnya harus kami berikan pada pemilik tanah. Yang paling membuat aku sedih adalah kondisi Bak yang akhir-akhir ini sering sakit. Aku takut membayangkan kalau-kalau Bak meninggalkan kami.

“Lina,  ambekkan Emak minum”

suara Emak berkumandang di tengah terik matahari. Aku bergegas mengambilkan sebotol air minum, kemudian berjalan menuju tempat Emak bertanam. Kulihat Emak begitu kehausan, dia hampir menghabiskan minumannya. Sementara Bak,  kulihat masih tampak bersemangat bertanam, sesekali dia batuk dan memegang dadanya, mungkin dada Bak terasa sakit.

“Lina, kaban balek ke dusun, beli minyak tanah, duitnye ade di dalam sangkau kusekan.”  Pinta  Emak

aku mengangguk perlahan. Kemudian  aku mengarahkan telunjukku pada Gita dan Nopan, pertanda aku mau mengajak mereka ke dusun juga. Emak mengerti permintaanku, dia  langsung mengangguk dan tersenyum. Seperti biasa Emak yang paling mengerti dengan bahasa isyarat yang ku berikan.



***
Behape liter?” Tanya bu Annida

Aku menunjukkan 2 jari tanganku. Kulihat  Gita dan Nopan begitu senang menonton film kartun di televisi bu Annida yang letaknya  di dalam toko. Aku tersenyum melihat mereka berdua. Mereka jarang sekali menonton televisi itulah alasan kenapa tiap kali ke desa aku mengajak mereka karena biasanya pedagang menaruh televisi di dalam tokohnya sebagai salah satu daya tarik.

Tanpa sengaja kaki Gita menyandung kaki anak bu annida yang sedang lewat. Sontak anak itu terjatuh dan langsung menangis Kulihat wajah Gita sangat ketakutan karena bu Annida menatap wajahnya dengan tajam.  Bu Annida melihat kaki anaknya memar. Dia  langsung marah-marah.

kalu nak nunton jangan di depan duahe, lah miskin dek tau diri” teriak bu Annida.

Aku langsung memagang tangan kedua adikku dan mengajaknya pulang.




***
Aku bergegas kembali kekebun. Ya.. kebun sekaligus rumah buat keluargaku. Begitu susah mencari tumpangan perahu. Semenjak  jembatan yang menghubungkan desa Penanggiran dengan kebun-kebun warga  putus, warga desa harus menggunakan perahu. Sebelum terpilih menjadi bupati, Pak bupati berjanji akan memperbaiki jembatan seandainya dia terpilih. Sekarang sudah satu tahun lebih masa jabatannya namun tak terjadi apa-apa dengan jembatan desa kami.

Aku  lihat lagi wajah Gita, dia masih pucat dan ketakutan. Rasannya hatiku begitu pedih melihatnya. Seandainya  saja kita masih di rumah yang dulu. Adik-adikku pasti bisa menonton TV dengan nyaman tanpa takut akan ada orang yang memarahi. Tiba-tiba lamunanku  terhenti karena ada yang memanggil.

“Lina, kalu nak tumpangan kekebon bayar seribu makmane galak dide?

Anto menawarkan ojek perahunya. Aku terdiam sejenak, pikirku di dunia ini memang tidak ada yang gratis. Aku mengangguk saja.



***
Pandanganku tertuju pada matahari, aku sering sekali menantangnya dengan memandangnya begitu lama, namun aku selalu kalah. Terkadang aku menyalahkan nasib atas semua yang terjadi. Dulu kita mempunyai sebuah rumah di desa namun karena kecelakaan 3 tahun lalu di dalam sebuah angkot ketika Bak dan aku mau kepasar, kita harus menjual rumah kita untuk biaya rumah sakit.. Bak harus dibawah kerumah sakit dan menghabiskan banyak uang, sementara aku kehilangan suaraku. Kata dokter itu karena shock waktu kecelakaan. Setamat SD aku tidak melanjutkan sekolah karena ayah tidak mempunya biaya untuk menyekolahkanku. Sejak  saat itu keluarga kami terpaksa hidup di kebun milik tetanggaku.



***
Malam ini pun terasa sama seperti malam sebelumnya tidak ada suara manusia. Hanya terdengar suara jangkrik dan suara burung hantu yang seolah saling tak mau kalah. Kulihat Mak, Bak dan kedua adikku sudah tertidur pulas. Hari ini kondisi Bak tidak sehat, sepanjang bertanam Bak terus batuk disertai sesak nafas. Aku senang sekali melihat Bak bisa tertidur pulas. Kuharap saat dia terbangun esok kondisinya sudah sehat. Aku membuka pintu pundok , kemudian kuarahkan pandangnku pada kerlipan bintang. Begitu indah, bintang-bintang itu menggantung di langit. Aku pikir alangkah agungnya yang menciptakannya.

Malam mengiring mimpiku  berkelana ke tempat yang tidak aku ketahui, entahlah tempat itu terasa begitu asing, begitu sepi. Kemudian aku melihat Bak muncul dari belakang pepohonan dan melambaikan tangannya. Aku ingin sekali berteriak tapi rasanya lidahku begitu keluh. Terus aku coba  namun tetap tak bisa.  Aku menangis. Aku  ingin berteriak agar Bak jangan pergi.  Aku memejamkan mataku dan mengumpulkan semua tenaga kemudian berteriak

Bak….”

Tiba-tiba aku terbangun. Perlahan, kulihat  Emak  menahan tangis disamping tubuh Bak. Aku bingung kenapa Emak menangis. Aku bangun perlahan dan kesentuh tubuh Bak. Tubuhnya begitu kaku. Aku tidak tahan menahan tangis dan berteriak

Bak…
Entahlah.. tiba-tiba aku bisa berteriak dengan suara lantang.


***
Sudah sebulan Bak pergi. Kini aku dan Mak harus bekerja banting tulang untuk kehidupan kami. Karena saat ini Bak tidak ada lagi, jadi kami harus berjuang lebih keras lagi. Meskipun kini suaraku sudah kembali tapi aku tetap seperti ilalang malang yang tidak tahu hidup kedepannya akan bagaimana. Tapi aku  berjanji selama aku bernafas tidak akan kusia-siakan hidup yang sudah Tuhan berikan untukku.

Kireihana Arma

Emak: Ibu
Bak:Ayah
Pundok:  rumah yang berukuran sangat kecil dan biasanya digunakan untuk  beristirahat di kebun.
Ambekkan: ambilkan         
Balek: pulang
Sangkau kusekan: kotak korek api kayu
Kaban: kamu
Ade: ada
Duitnye: uangnya
Behape liter: berapa liter
Kalu nak nunton jangan di depan duahe: kalau mau nonton jangan di depan pintu.
La misken dek tau diri: sudah miskin tidak tahu diri.
Kalu nak tumpangan ke kebon bayar seribu: kalau mau tumpangan ke kebun bayar seribu.
Makmane galak: gimana mau