JALANMU JALANKU
Rani….
Dalam diamku ku sebut namamu
Dalam tawaku ku ingat wajahmu
Dalam setiap hembus napasku ada
Desah kerinduan akan dirimu
Mengapa rasa ini ada?
Salahkah rasa ini?
Rani…..
Aku yang menunggu mu dalam setiap
detik hidupku
Dalam setiap desah napasku
Dalam kerinduan yang tiada berujung
Rani….
Biarkan rasa ini ada
Biarkan rasa ini mewarnai hidupku
Walau kadang terasa sangat
menyakitkan
By
Fadhil
Rani, ini adalah
puisi terakhir yang aku buat untuk kamu karena mungkin setelah ini kita akan
jarang bertemu atau malah kamu akn melupakakanaku” ujar fadhil setelah
membacakan puisi.
“Fadhil, meskipun
kita jauh kitakan masih bisa berkomunikasi lewat tlpn, Jgn terlalu dibuat rumit. semuanya tidak
sesusah yang kamu bayangkan percaya deh sama aku.”
Tapi kita gak tahu
apa yang akn terjadi dikemudian hari, apalagi kalau kamu jauh, bagaimana kalau suatu saat kamu
menemukkan seseorang disana yang buat kamu jatu hati. Bagaimana kalau….”
“Rani langsung
mengambil alih pembicaraan mereka “ asalkan kita saling pecaya semua akan baik-
baik saja pecayalah” Rani mencoba menenangkan Fadhil.
“Rani aku mohon
tetaplah disini, kamu bisa mengunjungi ibu kamu beberapa hari terus kembali
lagi kesini. Itu adil kan! kamu tetap bisa melihat ibu kamu dan kita bisa tetap
bersama”
“Fadhil, aku gak
bisa. ibuku sudah sering sakit-sakitan, aku harus disana buat jagain ibu aku
sama adik-adiku, aku mohon percayalah kalau emang kita jodoh gak akan lari
kemana, kita pasti akan disatukan oleh Tuhan. Kamu jangan terlalu sedih ya.! Fadhil,
Sepertinya sebentar lagi keretanya tiba”
Tidak lama kemudian
kreta apinya tiba.” Fadhil aku pergi ya, nanti setelah tiba disana aku telpon.
Da….”
Rani kemudian masuk
kedalam kereta api. Ia pandangi lagi Fadil namun Fadhil terus menundukkan
kepalanya. Ia tahu kalau fadhi sedang menagis. Ia akhirnya tidak tahan lagi,
air matanya mengalir dipipinya, sudah sejak tadi ia tahan agar ia tidak
menangis di depan Fadhil.
@@@
Bintang yang
berkilauan seumpama ribuan bidadari yang memancarkan cahaya kesucian sampai
kebumi. Mereka bak ingin menyampaikan pesan dari sang khalik tentang sebuah
keagungan . Bulan terasa begitu indah menyiratkan sebuah keanggunan penciptaan.
mereka seolah-olah ingin menyampaikan bahwa mereka adalah penghias malam yang
mampu membawa ketenangan.Dibawah cahaya bulan yang indah bersama taburan
bintang yang tampak begitu sempurna, seorang gadis duduk disebuah halaman rumah
memandang bulan seraya melamun.
Dia memandang tajam
pada bulan kemudian menghela napas panjang, seakan ingin
membuang semua kegundahahan hatinya. Dia buka lipatan sebuah kertas yang berisi
puisi dari Fadhil pacarnya. Itu adalah puisi yang ia terima dari Fadhil saat
mereka berpisah di stasiun kereta api. Mereka harus berpisah karena Rani harus
pulang kembali ke Surabaya karena ibunya sakit keras. Rani memutuskan untuk
kuliah di Universitas yang ada di Surabaya saja dan meninggalnkan Jakarta juga
Fadhil.
@@@
Seiring dengan berjalannya waktu mereka semakin
jarang berkomunikasi karena sibuk dengan kegiatan masing- masing. Suatu hari ketika Rani sedang jalan-jalan
bersama adiknya tasnya di jambret,
karena kejadian itu Rani kehilangan Hp sejak saat itu dia tidak pernah
berkomunikasi lagi dengan Fadhil. Rani
tidak ingat dengan nomor hp fadhil, karena baru beberapa hari yang lalu Fadhil
mengirimminya sms nomor HP nya yang baru.
Mereka benar-benar kehilangan komunikasi.
@@@
Setelah lulus kuliah, Rani diminta ibunya untuk segera
menikah karena kondisi ibunya yang sering sakit-sakitan. Rani mencoba menjelaskan
pada ibunya bahwa saat ini dia belum memiliki calon yang bisa dijadikan suami.
Sebenarnya Rani memang tidak pernah mencari pacar karena dia tidak bisa
melupakan Fadhil. kenangan mereka terlalu berarti dan tidak bisa dilupakan
begitu saja. Apalagi kalau di harus mengganti posisi Fadhil di hatinya dengan
orang lain.
“ Rani, ibu ini
sudah tua. Sebelum ibu meninggal ibu ingin melihat kamu menikah. Agar nanti
kamu dan suamimu bisa menjaga adik-adikmu.”
“ Bu, Rani bukannya
tidak mau menikah tapi untuk saat ini
Rani belum punya calon.” Rani memegang tangan ibunya yang sedang berbaring
lemah.
“ Begini nak,
kemarin Bu Suherman, teman lama ibu mengunjungi ibu, beliau bercerita tentang keponakannya
yang sedang mencari seorang pendamping. Dia bilang kalau keponakannya tidak
menuntut banyak syarat, yang penting baik dan pintar memasak sudah cukup. Ya…
maksud ibu kalau kamu mau, bagaimana kalau kamu dan keponakan teman ibu itu
dijodohkan, agar bisa memepererat tali silaturahmi antara keluarga kita dan
keluarga bu suherma.”
“ Rani terserah ibu
saja bu, apapun yang membuat ibu bahagia Rani menurut saja.” Rani mencim tangan
ibunya matanya berkaca-kaca karena menahan tangis. dalam hatinya berbisik ‘
Fadhil maaf, aku harus menghianati cinta kita tapi aku juga tidak tahu apa kau
juga setia atau sekarang malah……”
“ Ada apa nak,
sepertinya kamu memikirkan Sesuatu. Apa kamu tidak setuju kalau ibu jodohakan
dengan keponakannya Buu seherman.”
“ Tidak bu…Rani
Cuma teringat almarhum ayah, kalau dia masih ada pasti ayah senang kalau tahu
Rani bakal menikah.”
@@@
“ Kak sudah siap
belum keluarga Bu Suherman bentar lagi tiba” desak adiknya agar Rani bisa
mempercepat dandannya.
“ Iya dek bentar
lagi selesai” jawab Rani
Rani keluar dan
duduk di Sofa dekat ibu dan adiknya. Hatinya benar-benar deg-degan.
Perasaananya berkecamuk, Ia harus menerima calon suaminya dengan hati yang
terbuka, namun bayang- bayang wajah Fadhil seolah terus berkelebat
dihadapannya.
Terdengar suara
pamannya Rani dari luar berteriak ‘ Mbak yu keluarga bu Suherman sudah tiba”
Rani benar-benar gugup keringatnya mulai
bercucuran wajahnya mulai tegang. Ia coba menenangkan hatinya agar ibunya tidak
tahu perassannya yang sebenarnya. Rani menundukkan kepalanya karena menyembunyikan perasaan tegangnya.
“Rani, ini
laki-laki yang akn menjadi pendamping hidupmu” suara ibunya membuat Rani
mengangkat kepalanya namun yang dia lihat adalah Sesuatu yang tidak pernah ia
bayangkan sebelumnya. Jantungnya berdetak begitu cepat ketika matanya bertemu
pandang dengan mata laki-laki itu. Tubuhnya terasa bergetar tanpa ia sadari air
matanya mengalir membasahi pipinya. Semua orang termangu kebingungan melihat
hal tersebut.
“ Fadhil, kamu benar Fadhil kan? A… a…aku gak nyangka
kalau laki-laki itu kamu.” Rani tampak terkejut dan terbata-bata menyusun
kalimat yang dia ucapakan.
“ Rani, pribahasa
itu benar ya…”
“Pribahasa apa?
Tanya Rani sambil mengelap airmatanya.
“pribahasa yang
kamu katakan saat kita berpisah dulu. Kamu bilang kalau jodoh tak lari kemana.
Dan itu terbukti. Walaupun sudah 5 tahun
kita berpisah, namun ternyata Tuhan mempertemukan kita kembali dengan caranya
yang indah yang tidak kita duga sebelumnya.”
“ Kamu benar….”
Ujar Rani.
Rani memandang
kesamping, dia tersenyum pada adiknya yang sudah beranjak dewasa kemudian
berkata
“Adikku percayakan
jalan yang kamu ambil pada Tuhan, karena Dia akan membuat kamu bahagia dengan
caranya. Seperti mbak mu ini.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar