Sabtu, 11 Februari 2012

Jalanmu Jalanku

JALANMU JALANKU


Rani….
Dalam diamku ku sebut namamu
Dalam tawaku ku ingat wajahmu
Dalam setiap hembus napasku ada
Desah kerinduan akan dirimu
Mengapa rasa ini ada?
Salahkah rasa ini?

Rani…..
Aku yang menunggu mu dalam setiap detik hidupku
Dalam setiap desah napasku
Dalam kerinduan yang tiada berujung

Rani….
Biarkan rasa ini ada
Biarkan rasa ini mewarnai hidupku
Walau kadang terasa sangat menyakitkan
                                                By Fadhil


Rani, ini adalah puisi terakhir yang aku buat untuk kamu karena mungkin setelah ini kita akan jarang bertemu atau malah kamu akn melupakakanaku” ujar fadhil setelah membacakan puisi.

“Fadhil, meskipun kita jauh kitakan masih bisa berkomunikasi lewat tlpn,  Jgn terlalu dibuat rumit. semuanya tidak sesusah yang kamu bayangkan percaya deh sama aku.”

Tapi kita gak tahu apa yang akn terjadi dikemudian hari, apalagi kalau  kamu jauh, bagaimana kalau suatu saat kamu menemukkan seseorang disana yang buat kamu jatu hati. Bagaimana kalau….”

“Rani langsung mengambil alih pembicaraan mereka “ asalkan kita saling pecaya semua akan baik- baik saja pecayalah” Rani mencoba menenangkan Fadhil.

“Rani aku mohon tetaplah disini, kamu bisa mengunjungi ibu kamu beberapa hari terus kembali lagi kesini. Itu adil kan! kamu tetap bisa melihat ibu kamu dan kita bisa tetap bersama”

“Fadhil, aku gak bisa. ibuku sudah sering sakit-sakitan, aku harus disana buat jagain ibu aku sama adik-adiku, aku mohon percayalah kalau emang kita jodoh gak akan lari kemana, kita pasti akan disatukan oleh Tuhan. Kamu jangan terlalu sedih ya.! Fadhil, Sepertinya sebentar lagi keretanya tiba”

Tidak lama kemudian kreta apinya tiba.” Fadhil aku pergi ya, nanti setelah tiba disana aku telpon. Da….”

Rani kemudian masuk kedalam kereta api. Ia pandangi lagi Fadil namun Fadhil terus menundukkan kepalanya. Ia tahu kalau fadhi sedang menagis. Ia akhirnya tidak tahan lagi, air matanya mengalir dipipinya, sudah sejak tadi ia tahan agar ia tidak menangis di depan Fadhil.

                                    @@@

Bintang yang berkilauan seumpama ribuan bidadari yang memancarkan cahaya kesucian sampai kebumi. Mereka bak ingin menyampaikan pesan dari sang khalik tentang sebuah keagungan . Bulan terasa begitu indah menyiratkan sebuah keanggunan penciptaan. mereka seolah-olah ingin menyampaikan bahwa mereka adalah penghias malam yang mampu membawa ketenangan.Dibawah cahaya bulan yang indah bersama taburan bintang yang tampak begitu sempurna, seorang gadis duduk disebuah halaman rumah memandang bulan seraya melamun.
Dia memandang tajam pada  bulan kemudian   menghela napas panjang, seakan ingin membuang semua kegundahahan hatinya. Dia buka lipatan sebuah kertas yang berisi puisi dari Fadhil pacarnya. Itu adalah puisi yang ia terima dari Fadhil saat mereka berpisah di stasiun kereta api. Mereka harus berpisah karena Rani harus pulang kembali ke Surabaya karena ibunya sakit keras. Rani memutuskan untuk kuliah di Universitas yang ada di Surabaya saja dan meninggalnkan Jakarta juga Fadhil.
                                    @@@ 


Seiring  dengan berjalannya waktu mereka semakin jarang berkomunikasi karena sibuk dengan kegiatan masing- masing.  Suatu hari ketika Rani sedang jalan-jalan bersama adiknya tasnya di jambret,  karena kejadian itu Rani kehilangan Hp sejak saat itu dia tidak pernah berkomunikasi lagi dengan Fadhil.   Rani tidak ingat dengan nomor hp fadhil, karena baru beberapa hari yang lalu Fadhil mengirimminya sms nomor HP nya yang baru.  Mereka benar-benar kehilangan komunikasi.


                                                @@@

Setelah lulus  kuliah, Rani diminta ibunya untuk segera menikah karena kondisi ibunya yang sering sakit-sakitan. Rani mencoba menjelaskan pada ibunya bahwa saat ini dia belum memiliki calon yang bisa dijadikan suami. Sebenarnya Rani memang tidak pernah mencari pacar karena dia tidak bisa melupakan Fadhil. kenangan mereka terlalu berarti dan tidak bisa dilupakan begitu saja. Apalagi kalau di harus mengganti posisi Fadhil di hatinya dengan orang lain.

“ Rani, ibu ini sudah tua. Sebelum ibu meninggal ibu ingin melihat kamu menikah. Agar nanti kamu dan suamimu bisa menjaga adik-adikmu.”

“ Bu, Rani bukannya tidak mau menikah  tapi untuk saat ini Rani belum punya calon.” Rani memegang tangan ibunya yang sedang berbaring lemah.

“ Begini nak, kemarin Bu Suherman, teman lama ibu mengunjungi ibu, beliau bercerita tentang keponakannya yang sedang mencari seorang pendamping. Dia bilang kalau keponakannya tidak menuntut banyak syarat, yang penting baik dan pintar memasak sudah cukup. Ya… maksud ibu kalau kamu mau, bagaimana kalau kamu dan keponakan teman ibu itu dijodohkan, agar bisa memepererat tali silaturahmi antara keluarga kita dan keluarga bu suherma.”


“ Rani terserah ibu saja bu, apapun yang membuat ibu bahagia Rani menurut saja.” Rani mencim tangan ibunya matanya berkaca-kaca karena menahan tangis. dalam hatinya berbisik ‘ Fadhil maaf, aku harus menghianati cinta kita tapi aku juga tidak tahu apa kau juga setia atau sekarang malah……”

“ Ada apa nak, sepertinya kamu memikirkan Sesuatu. Apa kamu tidak setuju kalau ibu jodohakan dengan keponakannya Buu seherman.”

“ Tidak bu…Rani Cuma teringat almarhum ayah, kalau dia masih ada pasti ayah senang kalau tahu Rani bakal menikah.”


                        @@@

“ Kak sudah siap belum keluarga Bu Suherman bentar lagi tiba” desak adiknya agar Rani bisa mempercepat dandannya.

“ Iya dek bentar lagi selesai” jawab Rani

Rani keluar dan duduk di Sofa dekat ibu dan adiknya. Hatinya benar-benar deg-degan. Perasaananya berkecamuk, Ia harus menerima calon suaminya dengan hati yang terbuka, namun bayang- bayang wajah Fadhil seolah terus berkelebat dihadapannya.

Terdengar suara pamannya Rani dari luar berteriak ‘ Mbak yu keluarga bu Suherman sudah tiba”
 Rani benar-benar gugup keringatnya mulai bercucuran wajahnya mulai tegang. Ia coba menenangkan hatinya agar ibunya tidak tahu perassannya yang sebenarnya. Rani menundukkan kepalanya  karena menyembunyikan perasaan tegangnya.

“Rani, ini laki-laki yang akn menjadi pendamping hidupmu” suara ibunya membuat Rani mengangkat kepalanya namun yang dia lihat adalah Sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Jantungnya berdetak begitu cepat ketika matanya bertemu pandang dengan mata laki-laki itu.  Tubuhnya terasa bergetar tanpa ia sadari air matanya mengalir membasahi pipinya. Semua orang termangu kebingungan melihat hal tersebut.

“ Fadhil,  kamu benar Fadhil kan? A… a…aku gak nyangka kalau laki-laki itu kamu.” Rani tampak terkejut dan terbata-bata menyusun kalimat yang dia ucapakan.

“ Rani, pribahasa itu benar ya…”

“Pribahasa apa? Tanya Rani sambil mengelap airmatanya.
“pribahasa yang kamu katakan saat kita berpisah dulu. Kamu bilang kalau jodoh tak lari kemana. Dan itu terbukti. Walaupun sudah  5 tahun kita berpisah, namun ternyata Tuhan mempertemukan kita kembali dengan caranya yang indah yang tidak kita duga sebelumnya.”

“ Kamu benar….” Ujar Rani.

Rani memandang kesamping, dia tersenyum pada adiknya yang sudah beranjak dewasa kemudian berkata
“Adikku percayakan jalan yang kamu ambil pada Tuhan, karena Dia akan membuat kamu bahagia dengan caranya. Seperti mbak mu ini.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar