Hari ini geng Gubrak kompromi masalah hidup dan matinya salah satu teman mereka, Bettyful. Bettyful yang lagi jatuh cinta sama kakak senior di jurusan yang sama yaitu peternakan, seperti kerasukan dewi cinta, senang nyanyi - nyanyi lagu yang katanya lagi booming di kancah perdangdutan nasional dan juga senang buat puisi yang bisa di bilang tidak nyambung.
Matahari…oh matahari..
Sinarmu bak mentari
Cahayamu bak kilauan cahaya
Oh… matahari
Aku padamu Kak Rio
Mulut Ipah dan Junet menganga mendengar puisi yang dikumandangkan oleh Betty, Ingus Junet hampir keluar, bukan karena kagum dengan puisi Betty, tapi hari ini Junet memang lagi terkena pilek stadium tiga. Mereka bertepuk tangan meskipun tak satu pun yang mengerti dengan puisi Betty, yang ujung-ujungnya balik ke Rio lagi.
“Oh.. terima kasih my friends, I love you muach… muach…”
Betty memeluk teman-temanya, dia terharu karena teman-temannya selalu mendukung apapun yang dia lakukan, mulai dari mencuri gorengan tempe bik Ijah sampai keurusan cinta-cintaan.
***
Geng gubrak seperti biasa kalau sudah jam 12 siang nongkrong di kantin bik Ijah. Setelah itu baru ke mushollah sama-sama buat nunain kewajiban sholat. Namun, hari ini Junet gak ikutan karena masih diserang flu. Hari ini dia lebih milih pergi ke dokter hewan karena dia takut flunya naik ke stadium empat jadi flu burung, maklumlah setiap hari mereka selalu berdekatan dengan yang namanya hewan, mulai dari ayam sampai kebo. Ada kejadian spesial gak pake telor terjadi di kantin ‘Dijamin Enak’ hari ini.
“Betty, ada kak Rio di sana.” Ujar Ipah
“Mana - mana?” Tanya Betty dengan semangat.
“Itu yang duduk di kursi pojok.”
“Umm… kak Rio”
Betty memandangi Rio, mengetahui hal tersebut Rio merasa tidak nyaman dan segera keluar dari kantin ‘Dijamin Enak’.”
“Pokoknya aku harus dapetin kak Rio, Pah. Ya.. Harus…” Ujar Betty.
“Pah-pah, emangnya aku opah-opah. Yang bener donk.”
“Iya Ipah Kumala Sari binti Jamaludin Bakhtiar.”
“Emangnya ada modal apa loe mau deketin cowok paling keren di fakultas ini?”
“Kalo modal, ada dikit”
“ Emang modal apa?”
“Tabungan gue sekitar tiga ratus ribu kurang dikit.”
“Betty. Bukan modal itu yang gue maksud, maksud gue modal tampang, sama modal otak.”
“Aku kan cantik Pah. Wajah kayak artis Dian Sastro warung doyo, ke sebelah dikit Manohara Odellia peanut, sesuai dengan nama gue lah Bettyful, kan artinya cantik he..he.. Kalo otak beda tipis ukurannya sama Hillary Clinton.”
Ipah menarik napas panjang mendengar ucapan temannya itu. Ia masih bingung dengan Dian Sastro warung doyo dan Manohara Odellia peanut, setahunya yang ada Dian Sastro Wardoyo sama Manohara Odelia Pinot. Lagian setahunya peanut itu artinya kacang. Kalo cantik bahasa Inggrisnya beautiful bukan Bettyfull. Tapi pikirnya mungkin dia ketinggalan informasi saja tentang dunia entertainment, siapa tahu mereka memang sudah ganti nama atau memang dia yang salah. Pikirnya, pasti karena dia jarang nonton acara setajam pisau. mangkanya ketinggalan informasi. Kalo soal Betty cantik sesuai dengan namanya, itu ngaku-ngaku aja karena temannya yang satu ini narsis gak ketulungan. Lagian namanya itu kan Betty, Betty binti binti Fullani, dipelesetin jadi bettyful, tetap saja aneh, pikirnya.
***
“Rio, kenapa tadi buru-buru keluar dari kantin, ninggalin gue lagi, Ayolah kalau ada masalah cerita-cerita dong, Kita kan sama-sama anak rantauan, jadi kita itu senasib namun tak sepenanggungan.” Ujar Angga, berharap Rio mau bercerita tentang kenapa dia buru-buru meninggalkan kantin tadi.
“Tadi itu ada si Betty.”
“Siapa Betty? Tanya Angga penasaran.
“Itu anak angkatan 2010. Dari pertama kali ketemu sama dia, dia itu selalu ngedip-ngedipin mata, mana kedua matanya ngedip semua, apa jangan-jangan dia cacingan ya…”
“Oh.. Bettyful yang itu ya.Ya…ya gue tahu, mungkin aja dia cacingan secara penampilannya kan emang kayak ayam lagi kena flu Burung.”
Rio berpikir keras apa hubungannya cacingan sama flu burung.
***
“Bettyfull, kalo menurut eke, yey harus bergerak cepat, ntar gak punya kesempatan lagi , kalo nanti ada orang yang duluan deketin kak Rio gimana hayo?” Ujar Junet.
“Aku malu Net, secara aku kan wanita baik-baik… he..he.. Menurut kamu cowok itu gimana Net?”
“ Menurut eke cowok itu pura-pura cool aja, padahal sebenarnya mereka itu butuh juga perhatian cewek, sama kayak Kebon teh di puncak, masih butuh sama sinar matahari.
Betty berpikir apa hubungannya dengan kebon teh, tapi dia bisa memaklumi karena Junet berasal dari daerah Puncak jadi kecintaannya terhadap tanah kelahirannya itu membuatnya selalu berhasrat untuk menghubung-hubungkan segala sesuatu dengan Puncak.
“Ah.. lagak loe Net, kayak pakar cowok aja. Yang harus loe pahami tu cewek bukan cowok, atau jangan-jangan loe…” Ledek Ipah.
“Eh… Buju buneng ni cewek, menurut eke ya, mau cewek ataupun cowok yang penting kasih sayang la yaw…”
“Eh… yey gak boleh seneng ama cowok. Itu dilarang agama. Masak cowok seneng sama cowok” Ledek Ipah
Junet berdiri dengan gaya kemayunya, “Iye eke tahu, makanya sampe sekarang eke nahan-nahan. Tapi eke gak tahu tahan sampe kapan.” Ujar Junet sambil membuka lipatan kipas tangannya.
Sementara Bettyful masih terlihat berpikir keras, matanya melototi plafon, kebiasan barunya kalau sedang berpikir. Mungkin plafon memberinya Inspirasi. Ya masih…Mungkin. kebenaranya masih perlu dibuktikan di KPK( Komisi Pemeriksa Kejiwaan) karena menurut teman-temannya, betty mulai sering bertingkah aneh,
“Ya Tuhan, gimana caranya?”
“Cara apa?” Tanya Junet
“Datang ke kak Rio”
“Bisa pake sepeda, bisa juga gunain angkot. Asal jangan gunain kereta api soalnya gak ada rel kereta api di rumahnya” ujar Junet dengan gaya kemayunya.
Betty tersenyum simpul, di benaknya berpikir bagaimana ya kalau seandainya di buat rel kereta api menuju rumah Rio. Betty mulai senyum-senyum sendiri. Walaupun diperhatikan oleh teman-temannya, dia tetap tidak peduli seperti slogannya ‘Bik Ijah menggonggong, ambil langkah seribu’.
“Betty, itu bik Ijah pasti mau nagih duit mie ayam kemaren yang belum dibayar.” Ujar Ipah dengan wajah tampak khawatir
“Pah, Net.. Pasang kuda-kuda! Lari…..”
***
Matahari tak seperti biasanya, terlihat malu-malu di balik pepohonan, mungkin sang raja siang itu juga merasakan apa yang Bettyful rasakan pagi ini. Terlihat lalu lalang angkot kuning yang mengantar mahasiswa, mulai dari mahasiswa Fakultas Kedokteran ditutup dengan mahasiswa Fakultas Pertanian. Betty sudah siap-siap di depan Fakultas Pertanian. Dia sedang menunggu kehadiran Rio. Akhirnya Rio turun juga
“Kak Rio, aku…aku… aku padamu.”
“Kenapa kamu padaku?”
Pikirnya biar tak terlalu malu dia harus mengatakannya menggunakan bahasa Inggris. Biar terlihat cerdas di mata Rio. Tapi tiba-tiba perutnya terasa mual seperti biasa problemnya ketika dia benar-benar berhadapan dengan cowok yang dia sukai tubuhnya bakal gemetaran.
“I am sorry, my Body is not delicious, Ali be bek”
Rio berpikir keras. Meskipun dia bukan jurusan sastra Inggris tapi dia merasa ada yang salah pada ucapan Betty. Tapi apa yang salah ya? pikirnya. Dia segera melupakannya. Pikirnya, mungkin itu Australian English jadi agak berbeda dengan bahasa Inggris ketika dia kursus dulu. Rio segera bergegas masuk kelas. Dia tak mau ambil pusing dengan wanita satu itu.