Rabu, 10 Agustus 2011

Ku Temukan Cintaku di Sapporo


 Langkahku terasa lelah, semua yang  terlihat tampak putih. Gumpalan salju terus turun dan menjadikan kota Sapporo serba putih. Aku berjalan menuju  sebuah restoran  untuk menemui seorang klien. Entahlah, apakah benar sebutan itu, mungkin tepatnya  pembeli kehangatan  di kota yang sedang dilanda  kedinginan ini.

Langkahku tampak gontai, meskipun kucoba semburatkan senyum di wajahku, hingga tampak kedua lesung pipit  di wajahku. Tapi hatiku terasa benar-benar terluka di kota indah nan menawan ini.  Aku ingat ketika aku kelas tiga SMA, guru sejarahku sering bilang kalau orang-orang Jepang tidak bisa hidup tanpa Indonesia, begitu katanya.   Makanya, dulu jepang mati-matian mempertahankan Indonesia sebagai tanah jajahannya. Hal ini tetap berlangsung hingga sekarang  Jepang tetap menjajah Indonesia dengan menjadikan Indonesia sebagai tempat pembuangan industri. Kasihan sekali negeriku.  Mereka ambil  bahan industri  dari negeri yang disebut kaya raya dan setelah jadi, hasilnya  mereka buang kembali ke tempat asalnya.

Aku terlena di kota dingin di utara Jepang  ini. menikmati keindahan kota setiap malam, dijendela hotel berbintang, benar-benar kehidupan yang indah. Tapi hatiku benar-benar  terluka. hatiku  membeku, terasa begitu sulit untuk mencair. Seharusnya aku bangga bisa memberikan kehangatan di setiap dinginnya malam pada  pria-pria Jepang yang baik hati itu. Bahkan Palto yang mereka pakai tak mampu menyaingiku dalam memberikan kehangatan.


                   @@@
Terasa lelah tubuhku menjadi seorang penghibur, sebagian orang-orang disekelilingku menyebut pekerjaanku sebagai geisha. Mereka tidak tahu, kalau aku bukan menjual kemampuan seniku tapi menjual seonggok daging bagi para pemangsa kehangatan. Sedikit bernyanyi – nyanyi kecil  dan sejurus kemudian pindah tempat kerja ke hotel berbintang.

                                          @@@
Aku bergegas kembali ke apartemen, menyusuri sebuah jalan di kota Sapporo yang berselimut salju. Sesampainya di apartemen, aku melihat seseorang berwajah asli Indonesia tersenyum manis padaku. Aku tak mau ambil pusing, tak penting kita satu negara atau bukan. toh, dia tak akan peduli padaku yang kotor ini. Aku  hanya memberikan senyum getir padanya.

Ohayou gozaimasu!”

Belum sempat dia menjawab sapaanku, aku langsung bergegas masuk kamar dan menutup pintu. Hari ini benar-benar hari yang tidak kusangka, aku bisa bertemu dengan pria Indonesia. Meskipun bukan hanya sekali ini aku bertemu denga pria Indonesia,  tapi senyumannya benar-benar terlihat begitu tulus. Pria- pria Indonesia yang pernah aku temui biasanya mahasiswa. pada awalnya mereka akan tersenyum manis padaku, tetapi setelah mereka tahu siapa aku sebenarnya, mereka akan memalingkan muka ketika bertemu  denganku.

                                          @@@
Dinginya kota Sapporo membawa alam bawah sadarku melayang - layang ke angkasa.  Terasa diatas angin, ringan dan hampa.  Aku tertidur pulas, menghilangkan sejenak semua beban pikiranku yang selama ini menyiksaku.

Jam wakerku berbumyi menunjukkan pukul 12 siang.  Setelah tidur dari jam 7 pagi, aku merasa badanku sedikit lebih segar.  Aku keluar kamar, kemudian ku lihat pintu kamar pria itu. Kamarnya bertepatan di depan kamarku.  Tanpa aku sadar ternyata dia telah berada didekatku. Entahlah dari mana datangnya. Aku pikir dia baru membeli beberapa makanan ringan di minimarket di sekitar apartemen kami.

“O genki desuka?” tanyanya padaku

“Genki desu” jawabku  secukupnya

Aku langsung pergi meninggalkanya. Aku mau membeli makanan  di mini market sekitar apartemen. Aku mau  membeli beberapa mie instan dan juga beberapa minuman untuk menghangatkaan tubuh.  Sesampainyaa aku di apartemen, aku melihat dia berdiri di depan pintu kamarku. Dia tersenyum memandangku. Aku membalasanya dengan senyum getir.

Anatawa Indonesia jin desuka?” Tanyanya padaku

"Hai, Indonesia jin desu?” jawabku padanya dengan hanya memandang wajahnya sekilas.
Tampak senyum kebahagiaan di wajahnya.

“Perkenalkan nama saya Arif ” ujarnya penuh semangat

“Zaskia  Azzahra” jawabku

Senyumnya begitu tulus. Dia tampak begitu bahagia. tapi apakah senyum itu akan sama, kalau dia tahu siapa aku sebenarnya. Dia pasti sama seperti orang Indonesia yang pernah aku temui, memalingkan wajahnya ketika mereka tahu aku yang sebenarnya. Tanpa aku sadar bulir air mataku menjatuhi pipiku.

“Kenapa ada yang salah dengan kata-kataku?” tanyanya, dia tampak begitu  bersalah.

“Sama sekali tidak. Aku hanya sedikit kelelahan. Aku mau masuk kamar dulu, permisi.” Aku meninggalkannya, tampak jelas kebigungan diwajahnya.


                                           @@@

Aku berjalan menyusuri  sebuah jalan di kota Sapporo menuju apartemenku. Hari ini aku mau jalan kaki saja karena hotel tempatku menjamu klien  tidak terlalu jauh dari apartemenku.  aku tak mau naik bus, aku mau menikmati udara kota indah nan menawan ini.

Gumpalan  salju bagai kapas nan putih, terus turun membuatku mengigil, paltoku ketinggalan di kamar hotel, aku tak mau mengambilnya. aku nikmati saja kasih sayang salju pagi ini.
Terdengar langkah kaki debelakangku, ternyata si pria Indonesia itu. Dia tampak berjalan bergegas kearahku.

“Pakailah palto ini!” ujarnya dengan sopan

“Tidak usah terima kasih” jawabku

“ please, take this palto!”
pintanya padaku. terlihat sekali dia ingin menolongku dengan  tulus. Sejurus kemudian aku mengambilnya. Tubuhku benar-benar sedikit mendapatkan kehangatan. Hatiku benar-benar terasa beda pagi ini. Perasaan ini sudah lama tak ku rasakan  ‘rasa dihargai’ aku benar-benar terharu.

Aku mencoba memulai obrolan pada pria baik hati ini. “minggu depan akan ada snow festival di taman Odori kalau kamu mau menonton, aku bisa menemani. Tapi kamu jangan salah paham!  sudah seharusnya kita saling peduli sesama orang Indonesia”

“Tentu saja aku tidak akan salah paham, bagaimana bisa aku berpikir seorang perempuan cantik sepertimu akan menyukaiku. He… he… akukan jelek.” Ujarnya
Aku tersenyum mendengar pengakuannya yang jujur itu.

“O ya, disini juga ada taman Maruyama, taman itu di pusat kota, tapi tidak tepat dijantung kota seperti Odori. Tempatnya indah sekali ada danau kecil tempat orang naik perahu di musim panas, taman itu juga pusatnya barang-barang loakan. Kalau dimusim dingin, taman itu  dijadikan tempat cross country ski sederhana.”
 Akhirnya kami sampai di apartemen. Terasa begitu cepat sekali, rasanya aku masih ingin ngobrol berdua dengannya.



      @@@

Malam ini klienku tidak jadi minta dilayani karena ada pekerjaan  mendadak, dia mengantarku pulang. Setelah sampai di depan apartemen, dia membukakan pintu mobil untukku. Sejurus kemudian mencium keningku. rasanya hatiku ingin berontak menolaknya tapi apa dayaku, aku dapat makan dari pria-pria seperti inilah.  Aku memandangi mobil itu hingga hilang dari pandangan.  Ketika aku berbalik, Arif berdiri tepat di hadapanku.

“Aku melihat pria setengah baya itu mencium kamu dari jendela. Aku turun karena aku ingin memastikan kebenaran. Apakah dia pacar kamu atau bahkan suami kamu?” tanyanya dengan raut wajah penasaran.

“ Um… dia bukan pacarku, kita hanya teman dekat saja,  maaf aku harus segera ke kamar.”
 Aku bergegas pergi. aku tak mau dia bertanya lebih banyak lagi. Sejujurnya aku takut kalau dia mengetahui siapa aku yang sebenarnya. Aku takut dia akan berlaku sama seperti orang Indonesia lainnya yang pernah aku kenal di kota Sapporo ini.


                                            @@@
Pukul 20.00 aku keluar dari kamar aku sangat berharap kalau Arif tidak mendengar langakah kakiku. Secara pelan-pelan aku berjalan menuju tangga. Tiba-tiba terdengar suara Arif menyapaku

“ Konbanwa”

Aku terkejut sekali, aku membalikkan tubuhku. Sekarang kami berdua berhadapan dalam jarak yang cukup dekat.

“Zaskia san doko e ikimasu ka?”

“ Watashiwa resuturan e ikimasu”

“Nande ikimasu?”

“ basude ikimasu, osakini shitsureishimasu!”

Aku bergegas meninggalkannya, dari wajahnya sepertinya dia ingin ngobrol banyak denganku. Sebenarnya aku pun ingin ngobrol banyak dengannya. Tapi malam ini aku ada janji dengan klienku di restorant. jadi, aku harus bergegas pergi.

                                           @@@
Setibanya di restaurant, aku melihat klienku duduk di meja nomor tiga. Aku segera mendekatinya.  Klienku kali ini belasteran jepang dan inggris. Dia begitu tampan. Kulitnya putih dan tampak sangat terpelajar. Yang aku tahu dia tidak begitu bahagia hidup dengan istrinya yang seorang  sekretaris sebuah perusahaan ternama di jepang. Kegiatan istrinya yang terlalu padat membuatnya mencari kasih sayang diluar rumah. Tentu saja aku orang yang tepat memberikannya kasih sayang. Meskipun hatiku sebenarnya terluka karena aku hanya seperti pelarian dan tempat pelampiasan nafsu.

Ketika kami sedang  tertawa-tawa, tiba-tiba datang seorang perempuan muda dan langsung melayangkan tangan diwajahku.

“What the hell are you doing with my husband?” Muka perempuan itu tampak marah sekali.  Aku paham pasti dia istri dari klienku.

“ Honey….I’m so sorry, we go home now.”  Klienku menarik tangan istrinya  dan pergi meninggalkanku begitu saja.”

Aku menghela napas panjang, aku tidak bisa menbayangkan bagaimana nasib keluarga mereka selanjutnya. Dalam hatiku yang paling dalam, jujur aku merasa sangat hina. Karena banyak keluarga yang istrinya minta cerai karena ketahuan suami mereka berhubungan denganku.  Aku malu sekali,  ternyata banyak yang memperhatikanku. Aku benar-benar terkejut ketika aku melihat Arif di meja nomor sebelas.  Aku bergegas berlari ke luar restaurant sambil menangis.
Arif mengejarku, namun aku berlari sekencang mungkin. Setelah lumayan jauh aku berlari, aku kehabisan tenaga.  Ku lihat dia semakin dekat denganku. Aku pasrah saja, aku akan menerima apapun makiannya padaku nanti.

“ aku tahu siapa kamu sekarang!” ujarnya dengan napas terengah-engah

“ PSK,  itu kan yang mau kamu katakan?!”

Bulir air mataku  membasahi kedua pipiku. Isak tangisku pecah saat itu juga.
Sesekali aku memandang kearahnya,  tampak gurat penyesalan dimukanya.
   
“Maaf, aku tidak bermaksud begitu, aku benar-benar minta maaf. Aku tidak akan menganggap  kamu rendah seperti yang lain. Tapi aku mohon berhenti dari pekerjaan ini.”

 “Terus  bagaimana aku bisa bertahan hidup disini. Aku mau makan apa, dan mau tinggal dimana kalau aku tidak bekerja.” Isak tangisku  kelihatannya begitu menyakitkan buatnya.

Begitu ada bus datang aku langsung naik bus, aku meninggalkannya dipinggir jalan. Aku benar-benar malu dengannya. Aku malu dengan pekerjaanku.

                                           @@@
Salju terus turun dan tampak begitu putih, aku memandang keluar jendela, merenungkan kapan aku bisa lepas dari semua jerat sandiwara kehidupan. Aku tidak mungkin berhenti dari pekerjaanku, karena kalau aku berhenti, aku tidak bisa mengirim uang untuk kedua orang tuaku dan adik-adikku. Ayahku yang sudah sakit-sakitan tidak mungkin bekerja sedangkan ibuku hanya pembantu rumah tangga. Bagaimana mereka bisa makan dan menyekolahkan adik-adiku.

Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamarku. Aku pikir itu pasti Nadhila, karena minggu lalu kita janjian mau ketemuan hari ini. Nadhila jauh lebih beruntung dari aku.  Meskipun hidupnya pas-pasan tapi dia sangat bahagia menikah dengan seorang  pria jepang.
Aku bergegas membuka pintu, ternyata bukan Nadhila, tapi Arif. Aku mau menutup pintu tapi  dia segera menahan pintunya.

“ aku mau bicara dengan kamu, aku mohon sebentar saja.”

Melihat keseriusan di wajahnya. Akupun akhirnya mau berbicara dengannya.
Setelah beberapa lama kita bicara, ternyata dia telah mengetahui apa pekerjaanku sebenarnya, sebelum dia melihat kejadian di restorant itu. Beberapa hari yang lalu dhila datang keapartemenku, memberitahukan kalau dia tidak bisa datang hari ini. Dia dan Arif  berbincang panjang lebar  tentang bagaimana kita berdua bisa sampai di kota ini dan bagaimana kehidupan kita selanjutnya. Air mataku berlinang. aku benar-benar malu. Tapi dia memang beda dengan yang lain. Dia tidak mengangapku rendah, malah prihatin dengan keadaanku. Malam itu dia sengaja membuntutiku untuk memastikan kebenaran ucapan dhila.     

“Aku akan menikahi kamu” ujarnya dengan lantang.

Aku tersentak mendengar ucapannya.  Tapi dia kelihatan begitu tulus mengucapkan hal itu. Isak tangis ku mulai berhenti dan aku memandang wajahnya meskipun dia berusaha menundukkan wajahnya.

“kamu itu seorang mahasiswa, bagaimana bisa menghidupi seorang istri, terus bagaimana dengan kedua orang tua kamu? apa mungkin mereka merestui kamu menikah saat masih kuliah. Dan bagaimana kalau mereka tahu tentang aku yang sebenarnya.?”

Aku menodongkan semua pertanyaan itu padanya secepat kilat. Jujur,  ada rasa ragu di hatiku meskipun aku melihat ketulusan diwajahnya. Sebagian hatiku mengatakan, bagaimana bisa orang yang belum mengenalku dengan baik, tiba-tiba ingin menikah denganku. Tapi buru-buru aku tepis perasaan itu. Aku berpikir mungkin ini jawaban dari doaku selama ini. Menemukan orang yang tulus mencintaiku, dan menganggap aku layaknya manusia, bukan seonggok daging yang hanya dilahap ketika rasa lapar hawa nafsu muncul.

“Jangan khawatir,  buatku kamu wanita yang baik. Hanya karena korban keadaan, kamu terpaksa melakukan pekerjaan ini. Asal kamu mau berubah dan minta ampunan pada Tuhan, aku yakin  Tuhan pasti memberikan ampunan-Nya untukmu. Terus  aku pikir tidak ada satu alasanpun yang bisa membuatku ataupun kedua orang tuaku merendahkanmu, jika yang punya kuasa atas dunia ini sudah mengampuni dosamu. Lagi pula kedua orang tuaku orang yang sangat demokratis mereka memberikan kebebasan pada anak-anaknya. Mungkin awalnya mereka akan terluka, tapi aku yakin mereka akan bisa menerimanya. Soal bagaimana aku menghidupi kamu, aku akan bekerja sambil kuliah. aku yakin aku bisa, karena rizki itu sudah diatur sama yang diatas.  Jadi, kamu tidak perlu khawatir tentang kehidupan kita dimasa datang.” Ujarnya dengan mata berkaca-kaca.


                                           @@@

Salju hari ini terasa begitu berbeda, terasa hangat.  Dingin yang selama ini selalu dia berikan, seolah berubah jadi  sentuhan kehangatan. Mungkin karena orang yang duduk disampingku saat ini. Orang yang Allah turunkan bagaikan malaikat  bagiku. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi dimasa yang akan datang. Tapi, aku yakin aku akan bahagia bersamanya.  Hari ini adalah hari snow festival. Kita berdua duduk tepat di salah satu bangku taman Odori.
Sungguh hari yang indah dan salju yang bersahabat.  Kota ini sungguh terasa berbeda dari sebelumnya.

Dinginnya salju malah terasa menghangatkan bagiku. Kesedihan karena merasa dijebak oleh agen TKW yang katanya mau mempekerjakanku di sebuah pabrik, yang akhirnya menjerumuskanku pada lembah kelam dunia malam, kini telah berakhir.  Aku bisa duduk berdua dengan seorang malaikat yang akan menuntunku menuju kebahagiaan. Dia telah berjanji liburan musim panas nanti dia akan membawaku pulang ke Indonesia  dan mengantarku ke Sukabumi. Kemudian melamarku, dia telah berjanji kalau dia tidak akan menceritakan pekerjaanku selama di Jepang pada kedua orang tuaku ataupun kepada orang tuanya, karena itu pastikan akan menyakitkan bagi mereka.

Salju putih terus turun, seolah turut bahagia bersamaku, membelai lembut kota Sapporo dengan  sentuhan dinginnya, tanda kasih sayangnya pada penduduk kota Sapporo.

“Salju yang indah di kota yang indah, dan hari yang  indah bagi pemilik dua hati yang saling mencinta. “Terima kasih ya Allah, aku pikir engkau tidak akan membelaiku yang kotor ini lagi. tapi ternyata dugaanku itu salah. Kau mengirimkan malaikatmu padaku. Terima kasih Tuhan.”  Gumamku dalam hati.





~~~~~
Palto: Mantel musim dingin yang sangat tebal
Ohayou gozaimasu: selamat pagi
O genki desuka?: apa kabar/apakah anda sehat?
Genki: baik/sehat
Anatawa Indonesia jin desuka: apakah anda orang Indonesia
 Hai Indonesia jin desu: iya saya orang Indonesia
Zaskia san doko e ikimasu ka? : Zaskia mau kemana?
Watashiwa resuturan e ikimasu: Saya (mau) pergi kerestoran
Nande ikimasu? : Pergi (naik)  apa?
basude ikimasu: pergi naik bis.
osakini shitsureishimasu: Saya permisi dulu
Geisha: wanita yang menjual kemapuan seninya misalnya main alat music baca puisi dsb ( bukan PSK).








Kamis, 04 Agustus 2011

Dilema Cinta Zah


Pagi itu matahari tak menampakkan sinar keperkasaannya, yang ada hanyalah hembusan angin semilir yang mengirimkan harum bunga mawar keseluruh ruang di rumah sederhana, yang berada di dekat jalan setapak tua yang telah dipenuhi rerumputan, karena termakan usia.

“Zah, kamu kok senyum-senyum sendiri sih nak, ada yang lagi buat hati kamu berbunga-bunga ya?”

“Ibu… gak ada kok bu, aku cuma teringat Raffi aja, aku sama Raffi kan suka banget pagi yang ditemani angin semilir dengan semerbak harum bunga mawar, yang ditemani nyanyian burung-burung diatas pepohonan  yang tumbuh disekitar jalan setapak ini.

“Kamu jangan terlalu sering ingat Raffi Nak, kamu kan tahu dia sekarang sudah tinggal di Bandung bersama keluarganya. Apa kamu tidak ingat perkataan ibunya Raffi kepadamu 5 Tahun lalu?”    

Air mata Zah mengalir dipipinya yang chubby, kata-kata ibunya mengingatkan akan kejadian 5 tahun lalu saat ibunya Raffi mendatanginya dan mengatakan hal yang seumur hidupnya  akan sulit dihapus  dalam ruang terdalam di hatinya.

“ Iya bu… Zah ingat kok, tapi apa salah jika Zah selalu ingat Raffi?   Meskipun udah bertahun-tahun kita  gak ketemu tapi Zah ingat betul gimana suaranya, senyumnya, tawanya dan semua hal yang ada pada dia.”

“Iya, tidak salah kok Nak, tapi keadaan membuat semua rasa kamu jadi salah, kita cuma orang miskin, meskipun miskin itu tidak salah tapi banyak hal yang  tidak  bisa kita dapat karena kita miskin.”

“Bukannya rizki itu udah diatur sama yang diatas. kenapa mereka suka sekali merendahkan derajat kita. Dulu waktu ayahnya Raffi masih didesa ini dan bertugas sebagai seorang dokter, Raffi sering sekali dimarahi ibunya karena  dekat dengan ku yang hanya anak petani. Kenapa sih Bu miskin itu jadi penghalang buat kita untuk melakukan hal-hal yang kita sukai?”

“Sudahlah Zah, ibu tidak  mau kamu nanti menjadikan kemiskinan sebagai kambing hitam dari rasa keterbatasan kita. Ibu mau pergi dulu, kamu juga mau mengajar kan? Buruan pergi sana, nanti TK nya keburu bubar.”


                                 ***
 “ Zah, capek juga ya abis ngajarin tuh anak-anak bandel.”

“Mei gak boleh gitu dong,kita kan udah digaji buat ngajarin mereka, jadi mau gak mau  kita harus suka sama mereka.”

“Iya-iya, ah… lagian kamu kan emang suka anak kecil, pantas aja kamu betah ngajar, lah aku ampuuun nyerah ngajarin tuh anak-anak bandel. Oh ya, kamu masih ingat kan sama Raffi.”

Zah terdiam sejenak, ia ingat kata-kata ibunya agar jangan  ingat  Raffi lagi.

“Raffi ya…?”

“Iya Raffi teman SMA kita yang anaknya dr. Fadlan kamu kan dulu dekat banget sama dia, kok sekarang kayak gak  peduli gitu sih.”

Gak gitu juga, aku masih ingat kok sama dia, emangnya kenapa sama Raffi?”

“Gini, kemarin kan aku  sama adikku ke kantor kepala desa ngurusin KTP adikkku,  terus beliau kasih tahu aku, kalau  Raffi anaknya dr. Fadlan bakalan tugas disini.”

“Tugas apa?” Tanya Zah penasaran

“ Ya gak jauh-jauh dari ayahnya, tugas ngobatin orang sakit ha….ha… tau kan maksud aku. Kabarnya dia juga udah punya seorang istri.”  Tukas Mei

kata-kata mei terasa bagai petir yang langsung menyambar hati Zah. tapi Zah mencoba untuk menenangkan dirinya.

”Oh sekarang udah jadi dokter ya, udah punya pendamping hidup, semoga kamu selalu bahagia ya Fi” bisik Zah dalam hati

“Za! Kok malah melamun sih?”

Teriakan Mei membuyarkan lamunan Zah.” Gak, aku cuma ingat jemuran dirumah  aja kayaknya hari mau hujan deh. Aku pulang duluan ya.”


           ***
Zah menelusuri jalan setapak tua  menuju rumahnya, hatinya bercampur aduk antara senang dan sakit, senang karena bisa bertemu Raffi yang selama ini ia rindukan tapi juga sakit karena kejadian dulu. Ia ingat sekali saat ibunya Raffi datang kerumahnya dan mengatakan kalau ia tak pantas berteman dengan Raffi, seorang anak petani miskin cocoknya berteman dengan anak petani juga, bukan dengan anak seorang dokter. Yang paling menyakitkan adalah saat ibunya Raffi mengarahkan telunjuknya kearah wajah ibunya dan mengatakan  “didik anak kamu dengan baik jangan biarkan dia bermimpi terlalu tinggi, apalagi kalau mimpinya mendekati Raffi anak saya.” Ditambah lagi kabar kalau Raffi sudah menikah itu membuat hatinya semakin  teriris-iris.


                                                ***
Sesampainya dihalaman rumahnya ia terkejut melihat seorang laki-laki berpakaian seorang dokter duduk di kursi tua diteras rumahnya.

“Raffi……???

“Iya ni aku, aku udah kangen banget sama kamu dan aku yakin kamu pasti kangen banget juga sama aku, iya kan?”

“Ya aku juga kangen sama kamu. tapi... sudahlah lupakan.”

“Aku sengaja datang kerumah kamu dulu, sebelum menemui kepala desa karena aku kangen banget sama teman terbaikku. Suasana desa ini tidak banyak berubah ya, masih sama seperti dulu. Apalagi rumah kamu masih dipenuhi sama pot-pot bunga mawar yang keharumannya membuat kita mau berlama-lama dirumah ini.”

“Fi, gimana kabar kedua orang tua kamu?”

“ Ayah  alhamdulillah sehat, kalau ibu… udah meninggal  6 bulan yang lalu.”

“Innalillahi……. maaf ya, kamu jadi sedih.” Zah merasa bersalah menayakan hal tersebut.

gak apa-apa kok Zah, sebenarnya aku datang kesini  mau bilang sesuatu sama kamu.”

“ Mau bilang sesuatu?  ya uda bilang aja.”

“Kamu udah punya….maksud aku…..calon gitu deh?” Raffi sedikit gugup menanyakan hal tersebut.

“ maksud kamu pacar atau pendamping hidup gitu ya?”

“Iya… maksud aku itu.”

“ belum, kenapa emang?”

“Aku datang kedesa ini selain mau menjalankan tugas sebagai seorang dokter tapi juga mau kembali dekat sama kamu. Dari dulu sebenarnaya aku udah suka sama kamu dan sampai sekarang pun, rasa itu masih bertahan. Aku sudah bersusah payah agar  dapat bertugas didesa ini. dengan harapan bisa dekat lagi sama kamu.”

“Kamu tuh ya Fi,  mau mendekati aku saat kamu udah punya istri.”

“ Tunggu,  tahu dari mana kamu…?”

“Fi, gak penting aku tahu dari mana, yang pasti hal yang kamu lakuin ini gak cuma menyakiti istri kamu tapi juga menyakiti aku.”

“Tapi aku gak bahagia hidup sama istriku, aku nikahin dia karena ibuku mau dia jadi istriku.”

“Dan kamu nurut gitu aja kan?! Fi, pernikahan itu bukan hal yang main-main,  kamu gak bisa melakuan  ini sama istri kamu.”

“Istriku udah ngizinin kok, aku udah bilang sama dia kalau aku mau menikah lagi, lagian dia setuju atau gak setuju aku tetap mau  melakukan pendekatan  sama kamu, habis itu nikahin kamu, karena aku sayang sama kamu.”

“Pernikahan itu bukan cuma berlandaskan cinta kedua belah pihak yang mau menikah, tapi juga harus mempertimbangkan perasaan orang-orang yang akan terluka kalau pernikahan itu terjadi.”

“Zah, istriku itu sakit-sakitan, aku gak tahu sampai kapan aku bisa sabar sama dia, seharusnya dia yang melayani semua keperluanku bukan sebaliknya. Aku mau istri yang sehat yang mampu memberikan kebahagiaan yang seutuhnya tanpa harus merasa tertekan.”

“Itu namanya kamu egois seharusnya kamu pikiran perasaan dia, seharusnya kamu ada didekat dia saat ini. Bukannya malah mendatangi wanita lain dan ngungkapin rasa suka kamu. ini akan  membuat perasaannya lebih terasa   sakit daripada sakit yang dideritanya.”

“Aku gak peduli, aku udah simpan rasa ini selama bertahun-tahun sekarang aku mau sama kamu, terserah dengan orang lain mau sakit hati  atau apalah, aku udah terlalu sakit menyimpan rasa ini selama bertahun-taahun, karena takut ibu marah kalau ia tahu tantang perasaanku, sekarang ibu udah gak ada. aku bebas ngungkapin rasa sayangku sama kamu dan  sekarang aku mau jawaban dari kamu, kamu mau gak dekat sama aku dan jadi pendamping hidupku?”

Gak, aku gak mau, aku juga sayang sama kamu tapi aku gak mau bahagia diatas penderitaan wanita lain, aku gak mau  tersenyum bahagia sementara ada seorang wanita yang menangis kerena tersakiti hatinya.”

“Kalau kamu menolak permintaan aku, maka selamanya aku akan benci sama kamu dan hari ini juga aku akan pergi dari desa ini, Aku akan minta untuk ditugaskan ditempat lain,”

“Terserah kamu, aku gak peduli kamu mau pergi atau gak, aku lebih peduli sama wanita yang sekarang menahan rasa sakit karena penyakitnya dan karena pengkhianatan suaminya.”

“Ok, mulai hari ini kamu gak akan pernah melihat aku lagi, dan kamu akan menyesali tindakan kamu ini seumur hidup kamu.”

Raffi meninggalkan Zah dengan rasa kecewa dan wajah yang tampak kesal.  ia pergi meninggalkan rumah itu tanpa menoleh kebelakang sedikitpun.

“aku mohon menolehlah kebelakang. Aku mau melihat wajah kamu untuk terakhir kalinya.”  Bisik Zah dalam hati.

Tubuh Raffi akhirnya benar-benar menghilang dari penglihatan Zah. Zah meneteskan air mata. Hatinya benar-benar terasa sakit. Lebih sakit dari yang ia rasakan saat ia harus berpisah dengan Raffi yang ketika  itu harus  pindah ke Bandung.

“Tuhan, dulu hatiku terasa sakit karena harus berpisah dengan Raffi yang saat itu harus pindah ke Bandung. Sekarang hatiku sakit karena menolak dekat  dengannya,  ini benar-benar lebih menyakitkan Tuhan, saat ia hampir aku dapatkan aku harus melepaskannya demi Wanita lain yang lebih berhak. Tapi aku tahu ini yang terbaik untukku Tuhan.”  Zah mengahapus air matanya dan masuk kedalam rumah.





Hah... Hukuman Itu Lagi?


Hari ini adalah hari pertama aku masuk kuliah. Aku sangat deg-degan, terutama hari ini adalah hari pertama aku mengikuti Ospek. Aku sering mendengar kalau senior sering berlaku sewenang-wenang pada juniornya, hal itulah yang membuatku sangat takut. Ketakutanku sangat beralasan karena waktu aku menjalani masa orientasi ketika SMP, aku pingsan karena disuruh membersihkan WC siswa yang baunya bahkan tidak akan hilang meskipun dibersihkan selama tiga hari. Saat itu aku dihukum karena lupa membawa tas karung yang merupakan syarat selama mengikuti MOS.
                                                            ***
Semua mahasiswa baru berkumpul di bawah sebuah tenda yang telah disediakan oleh panitia Ospek. Setelah beberapa saat mendapat pengarahan oleh panitia, semua mahasiswa baru mengikuti  panitia dari masing-masing fakultas.  Saya dan Nia teman yang baru saya kenal ketika sama-sama melakukan registrasi ulang mengikuti panitia Ospek dari Fakultas Ekonomi. kebetulan kita berdua juga berada di jurusan yang sama yaitu jurusan ekonomi manajemen.

Kami semua berkumpul di sebuah  lapangan, terdengar suara yang sepertinya aku kenal tapi aku pikir tidak mungkin pasti hanya perasaanku saja, karena ketakutanku menjalani Ospek. 

Aku berbisik pada Nia, “Siapa yang sedang berbicara didepan?” tanyaku padanya.
Ternyata dia pun tidak tahu karena di belakang kami tidak bisa melihat.

Aku mencoba menanyakan pada mahasiswa yang berada didepan  kami, “maaf mau tanya yang berbicara di depan itu siapa ya”

“Itu Gubma Mbak,” jawabnya dengan aksen Jawa yang medok.

“Oh… Gubma”
Gubma adalah sebutan untuk gubernur mahasiswa yang memimpin organisasi tertinggi di fakultas yang biasa disebut  BEM atau badan eksekutif mahasiswa. bukannya pura-pura tidak tahu tapi aku dan Nia memang benar-benar tidak tahu, dari tadi kami tidak bisa fokus karena cuacanya sangat panas, terlebih lagi posisi kami berdua yang berada dibelakang. Jadi, tidak bisa melihat orang yang sedang berbicara di depan. Yang terbayang di pikiranku hanyalah bagaimana caranya aku bisa pergi dari sini dan mendapatkan sebotol minuman.

Selesai mendapatkan pengarahan kami disuruh berkumpul pada  PJ masing-masing sesuai dengan yang telah ditentukan ketika TM(technical meeting). kebetulan aku dan Nia dalam satu grup yang sama, grup pantang mundur.  Celakanya hari itu aku lupa membawa kalung yang terbuat dari bawang merah dan bawang putih. Aku baru ingat kalau aku menaruhnya di bawah kolom tempat tidur selesai membuatnya. Aku tidak menyukai bau bawang putihnya makanya aku taruh saja disana.

Aku benar-benar deg-degan, yang ada dalam pikiranku jangan sampai aku disuruh membersihkan WC karena aku benar-benar benci hukuman itu.  Aku berbisik pada Nia kalau kalungku ketinggalan.  Akhirnya dia memberiku solusi untuk sementara waktu aku tinggal di            WC pura-pura mau pipis setelah pemeriksaan peralatan selesai aku keluar. Aku terima saja sarannya Nia, karena aku pikir tak ada cara lain dari pada nanti sampai ketahuan. Aku minta izin pada PJ mau pergi ke WC. kira-kira 15 menit aku dalam WC, aku benar-benar tidak tahan lagi dengan baunya. Akhirnya aku keluar celakanya aku berpapasan dengan seseorang yang memakai baju panitia Ospek. Aku lihat lagi orang itu tapi semakin aku memandangnya semakin terasa kalau aku mengenalnya. tidak salah lagi dia Satria anggota OSIS yang menghukumku membersihkan WC beberapa tahun silam. Aku lihat lagi wajahnya tampak sunggingan senyum di bibirnya. Aku benci sekali senyum itu karena itu adalah senyuman yang sama ketika dia menghukumku membersihkan WC ketika SMP. Aku dimintanya menghadap PJ grup pantang mundur.  Setelah sampai, dia bertanya dengan gaya  khasnya yang sok keren. Hah… benar-benar  gaya yang tidak berubah, tetap menyebalkan.

“Kenapa kamu tidak bergabung dengan teman-temanmu dan mana peralatan Ospek kamu?” tanyanya dengan nada menbentak.

Aku terdiam sesaat, tubuhku gemetar,  yang ada dipikiranku pastilah aku disuruh membersihkan WC lagi sama orang sinting ini.
” Maaf tadi aku ke WC karena kebelet pipis.”

“kamu kalau pipis lamanya sampai 15 menit. tadi PJ kamu melapor karena kamu masih belum kembali. Kenapa kamu tidak pakai kalung seperti yang lain?”
Bentakannya lebih keras dari yang tadi.

“Kalungya ketinggalan. Aku minta Maaf.”  Nada suaraku terdengar memelas dengan harapan dia bisa memaafkanku.

“Maaf kamu bilang, itu namanya kamu tidak disiplin, tidak menghargai panitia. kamu harus dihukum,  hukuman yang tepat buat kamu adalah….”

Belum selesai dia mengucapkan kata-katanya aku langsung angkat bicara“ “Membersihkan WC kan? tidak perlu dijelaskan lagi,” dasar orang sinting gumamku dalam hati. Rasanya aku ingin sekali mengatakan kata-kata itu pada orang sombong ini.

Selama membersihkan WC selama itu pula aku  mengoceh tidak karuan. Aku benar-benar benci hukuman ini dan aku juga benci orang yang memberikan hukuman ini.

***
Setelah beberapa minggu kuliah aku mendapat tugas mewawancarai Gubma dengan bahasan bagaimana cara memimpin organisasi yang baik. Benar- benar tugas yang menyebalkan. Kenapa aku mendapat tugas yang berhubungan dengan orang sinting itu lagi.

“Semua ini  gara-gara aku tidak masuk kuliah  rabu kemarin, jadi mau tidak mau cuma itu saja pilihan yang tersisa.

“enaknya Nia kebagian tugas mewawancarai ketua rohis, mereka pasti berpikir kalau mereka mengambil tugas mewancarai orang sinting itu bakalan banyak hukuman yang didapat. “Sialnya,” gumamku dengan perasaan kesal”

Setelah mendapatkan alamat kostnya aku langsung menuju kostan si Gubma sinting itu. Seperti yang kubayangkan ini tidak akan menjadi hal yang mudah. Aku mengetuk pintu kostannya, dia membukanya dan langsung menutupnya kembali. Setelah aku memohon-mohon di luar pintu sambil menjelaskan tujuanku tanpa memperhatikan orang-orang disekitar kostan yang sedang memperhatikanku. aku terus memohon dan akhirnya dia bersedia membukanya dan mengizinkanku masuk.

***
Setelah beberapa hari aku bersamanya ternyata dia tidak seburuk yang aku bayangkan. Memang sih hobinya menghukum orang dan nyuruh-nyuruh tapi dia orangnya cukup baik meskipun bukan sangat baik tapi setidaknya dia cukup mau diajak kerja sama. Pada awalnya dia tidak begitu peduli padaku karena menurutnya aku ini bukan orang yang disiplin dan taat peraturan

Sejak aku mendapatkan tugas mewawancarainya kita berdua cukup dekat Terlebih lagi karena aku suka meminjam bukunya karena kita satu jurusan meskipun dengan berbagai syarat bukunya tidak boleh robek,  tidak boleh ada coretan dan bla…bla… memang menyebalkannya itu tidak mungkin bisa hilang. Aku pikir  kebiasannnya membuat orang sebal adalah  bawaan lahir. Jadi tidak bisa dihilangkan.


            ***
Hari minggu Satria mengajakku ke sebuah taman pinggir kota, aku sempat menebak-nebak apa yang mau ia katakan padaku sehingga harus membicarakannya di taman apa mungkin dia ingin melampiaskan kekesalannya karena meskipun dia memintaku untuk memanggilnya kakak aku tidak pernah melakukannya. Dari SMP aku memanggilnya dengan panggilan Satria meskipun dia merupakan kakak kelasku saat itu dan saat ini aku tetap memanggilanya dengan sebutan Satria mungkin karena kebencianku yang telah mendarah daging makanya aku tidak bisa memangillnya kakak.

 Kulihat dia ketika aku baru memasuki pintu taman, dia duduk di bangku yang di depannya terdapat tanaman mawar. Aku menghampirinya  dan memanggilnya dengan lembut, hal yang tidak pernah kulakukan selama ini padanya. Dia menoleh kebelakang dan terlihat sekali matanya berkaca-kaca dan wajahnya bereri-seri persis seperti bunga mawar yang ada didekatnya. Aku berpikir lagi pertanda apakah ini, dia bahkan jarang tersenyum padaku tapi kali ini dia tersenyum dengan tatapan yang sangat lembut.

“ Duduklah.” Sapanya denga lembut

Aku masih kebingungan dengan sikapnya yang tak biasa itu. Otakku tak mampu menerka apa yang mau dia lakukan. Sepertinya otakku berhenti berfungsi. Entahlah… aku semakin bingung dibuatnya. Dia sepertinya tahu kalau aku sedang bingung dengan perubahan sikapnya.

“Kamu bingung ya? aku mengajak kamu kesini karena aku mau mengatakan sesuatu yang sangat penting sama kamu, hal ini sudah lama ingin aku katakan. Semenjak kedekatan kita karena tugas wawancara, aku mulai yakin kalau kamu adalah cewek yang bisa diandalkan, bisa dipercaya, dan penuh kasih sayang. Ya meskipun pada awalnya pikiranku tentang kamu sangat buruk.” Ujarnya dengan nada suara yang  pelan,

Jantungku berdegup dengan kencang menanti-nanti apa dia ingin mengungkapakan rasa sukanya sama aku, setelah dia sadar kalau aku bukanlah cewek yang selama ini seperti yang dia anggap, tidak disiplin dan tidak taat aturan. Semejak mendapat tugas mewawancarainya aku merasa perasaan benciku lama-lama berubah jadi sayang, karena aku sering kangen dengan ocehannya kalau sedang tidak bersamanya.  Tubuhku terasa semakin gemetaran menunggu kata-kata yang akan keluar dari mulutnya.

“Bella sebenarnya aku… aku mau kamu….”

“Iya kamu mau apa? Cepat katakana. aku akan  dengan senang hati menerimanya” ujarku dengan mata yang berbinar-binar sembari disertai sunggingan senyum dibibirku. Itu adalah senyum termanis yang pernah aku berikan pada  makhluk yang namanya laki-laki.

“Baiklah kalau begitu, kemarin kedua orang tuaku membelikan aku rumah. Ya, meskipun sedikit tua tapi masih lumayan bagus, kedua orang tuaku melakukannya agar saat mereka mengunjungiku tidak harus tidur di kostan yang sempit lagi. Aku rasa kamu adalah orang yang bisa diajak berbagi dalam kehidupanku baik susah maupun senang kelak.” Ujarnya sambil menatapku

Aku benar-benar terharu, ternyata dia sudah berpikir sampai  ke sana. Aku pikir itu adalah rumah yang kelak kami akan tinggali setelah menikah. Oh… So sweet

“Bel, dari tadi kamu minta aku mengatakannya kan? Aku mohon kamu mau bersamaku membersihkan rumah itu, karena rumahnya sangat kotor, terutama WCnya benar-benar bau. Aku pikir kamu adalah orang yang cocok untuk membersihkannya.”

Setelah mendengar kata-kata itu yang terbayang dipikiranku hanyalah WC yang baunya tidak bisa hilang meski tiga hari dibersihkan. Aku merasa badanku lemas dan kemudian tidak ingat apa-apa lagi.  Terasa bau minyak kayu putih disekitar hidungku ternyata aku pingsan dan wajah pertama yang aku lihat adalah wajah Satria. saat melihat wajahnya aku langsung teringat WC. Seketika itu juga aku berdiri dan berteriak
                                    “Kabuuuuuuuuuuuuur………………………..”