Minggu, 29 Juli 2012

Bertemu Sang Jenderal


                                    Bertemu Sang Jenderal

Kegelapan malam segera di lumat oleh cahaya siang. Tampak matahari dengan gagahnya menantang dunia,  menunjukkan keperkasaanya dan seolah-olah menyampaikan pesan bahwa tak ada satupun di dunia ini yang mampu menyaingi keperkasaannya.
Seperti biasa, pagi ini emak sudah siap-siap  mau berkeliling menjual  kue dan gorengan. Ku perhatikan lagi tubuh emak yang sudah rentah itu, dia pun  menatap ku balik

 “Jangan memandangi  emak begitu, ayo siap-siap! Rahmat mau cari botol-botol plastik juga kan hari ini?” Ujar mak dengan sunggingan senyum di bibirnya

Aku mengangguk saja, batinku rasanya mau menjerit. Ku tahan air mata yang hampir jatuh di kedua bolah mataku, aku tak mau mak  tahu tentang kesedihanku. Aku tahu kalau hidupnya sudah kumpulan penderitaan, aku tak perlu menambahnya lagi. Emak adalah sosok seorang ibu yang selalu kuat meskipun terkadang ku tangkap raut wajah kelelahannya.  Terkadang jualan emak sama sekali tak laku, karena emak harus bersaing dengan penjual-penjual lainnya yang umurnya jauh lebih muda sehingga energi dan semangat mereka lebih besar dalam berjualan. Namun emak tak penah mengeluh sedikitpun. Ya, semenjak bapak meninggalkan kami mengahadap yang kuasa, emak dan aku harus berjuang keras menjalani kehidupan yang selalu menunjukkan taringnya pada yang lemah.


@@@
           
Semua orang sibuk dengan kegiatan masing-masing, mereka tak saling pedulikan. Mahasiswa-mahasiswa yang bergegas mengejar angkot karena takut telambat, Orang-orang yang berlalu lalang  seolah waktu 24 jam tak cukup untuk menyelesaikan pekerjaannya. Tampak riuh di pasar pagi Timbangan, terdengar dengan jelas orang-orang  menawar harga sayur-mayur yang harganya dianggap terlalu mahal. Ya… begitulah suasana kota Indralaya, yang didalamnya terdapat banyak mahasiswa UNSRI yang intelek. Aku selalu berharap mereka nanti dapat  mengubah nasib bangsa yang sudah carut marut ini.

Aku berjalan menyusuri jalan di Timbangan, berharap akan banyak botol-botol plastik yang aku temukan, Sehingga malam ini perutku tidak akan mengoceh karena haknya yang tak terpenuhi.

Aku  berbisik pada perutku “Jangan mengeluh terus, aku saja tidak mengeluh pada Negara ini yang katanya fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh Negara. Menurutku jangankan di pelihara, diperhatikan saja tidak. Tapi aku maklum, mungkin orang-orang diatas sana pada sibuk semua mengurusi Negara.  Mungkin.. ya, masih Mungkin.”

Aku  sering berimajinasi, masuk dalam salah satu barisan mahasiswa UNSRI  yang berorasi menuntut kesejahteraan pada Negara ini. Tapi ah… sudahlah, Sejak aku berhenti kelas dua SMP, aku mau mengubur mimpi-mimpiku, mimpi menjadi salah satu yang bisa membangkitkan Negara yang sedang tertidur pulas ini. Mimpi bisa seperti pak Sudirman yang menaruhkan jiwa dan raganya demi bangsa tercinta ini. Jujur, dalam lubuk hatiku yang paling dalam, kecintaanku pada sosok  perkasa itu tak pernah mati, meskipun aku berusaha mengubur mimpi-mimpiku.

Tiba-tiba Langkahku terhenti di depan sebuah warnet, aku melihat sebuah makalah dalam kotak sampah, ku dekati perlahan, kemudian ku ambil makalah tersebut. Sekejap kulirik orang-orang di dalam warnet yang memperhatikanku, aku pura-pura cuek saja, aku tahu di pikiran mereka  pasti alangkah kasihannya anak seumuranku bekerja sebagai pemulung. Ya, seharusnya sekarang aku duduk di bangku kelas dua SMA. Tapi sudahlah… aku bergegas pergi, aku tak mau di kasihani. Aku  mau mencoba selalu mensyukuri apapun yang sudah Tuhan berikan padaku.


  @@@

Kurebahkan Tubuhku di ranjang yang sudah tidak layak lagi di di gunakan, aku buka makalah yang tadi pagi aku temukan, setelah kulihat secara seksama ternyata makalah itu berisi tentang pertempuran di Ambarawa, betapa terkejutnya aku  ternyata didalamnya terdapat gambar pahlawan yang sangat aku kagumi, Ya… Jenderal Sudirman. Aku pandangi lagi, oh… ternyata dia makin perkasa, Dia seolah-olah tersenyum padaku dan aku pun membalas senyumnya dengan senyum termanis yang aku punya. Aku robek lembar makalah yang di dalamnya terdapat sang jenderal, kemudian aku letakkan didadaku. Aku menghela napas panjang  sembari tersenyum, mensyukuri semua yang telah ku dapat hari ini.

                                                            @@@

Aku duduk di bawah sebuah pohon Akasia, ku rebahkan tubuhku yang kelelahan karena bekerja seharian mencari botol-botol plastik. Aku memandang ke langit, melihat gumpalan-gumpalan Putih di langit, yang membentuk berbagai macam rupa, ku imajinasikan gumpalan putih itu membebentuk wajah teduh emak. kemudian aku  mengimajinasikan gumpalan putih di sampingnya menjadi sosok idolaku, tapi tiba-tiba muncul seseorang, dia berdiri menundukkan kepalanya  memandangku  dengan begitu tajam. Aku terkejut jantungku begitu cepat berdetak. Aku segera berdiri dan mencium tangannya. Oh… terasa begitu hangat. Dia mengajakku berjalan-jalan sambil mengobrol, aku terheran-heran memandangnya, sepertinya ia benar-benar tahu siapa aku padahal kita belum pernah bertemu sebelumnya. Dia mengajakku duduk di sebuah lapangan  kemudian memandang matahari, aku memandang raut mukanya  dengan penuh kekaguman.

“Rahmat, kamu mencintai negeri ini?” tanyanya padaku, aku terkejut dia tahu namaku padahal aku belum memberi tahunya.

“Iya, aku sangat mencintainya” Jawabku sambil memandang wajahnya yang tetap fokus memandang matahari.

“Apa bukti kalau kamu cinta pada negeri ini?” Tanyanya  lagi padaku

“Bukti…” Aku kebingungan mau menjawab apa, raut mukaku menjadi muram

“Kamu bingung? mencintai bukan berarti tanpa pengorbanan, kalau kamu mencintai negeri ini maka buktikan.”

“Aku  tidak bisa membuktikan dengan apapun, aku juga tidak bisa melakukan apapun, aku ini hanya anak putus sekolah yang harus menjadi pemulung demi mencukupi kebutuhan keluarga.” Ujarku dengan menundukkan muka.

“Kau menyesal putus sekolah dan menjadi seorang pemulung?” Kali ini dia memalingkan pandangannya dari matahari dan menatap wajahku.
Aku mengangguk perlahan, kedua bola mataku tak bisa berpaling memandangnya.

“Kau tahu dengan harapan apa para pejuang rela mempertaruhkan jiwa dan harta mereka, Mat?”
 Dia memandangku semakin tajam, kedua bola matanya menggambarkan keperkasaannya. Aku tidak mampu berkata apapun.

“Dengan harapan agar anak cucu mereka tidak mengalami nasib yang sama seperti mereka, tidak mengalami yang namanya pengekangan kebebasan, pengambilan hak, dan agar tidak di perlakukan semena-mena, tapi apa yang terjadi sekarang? yang  kuat suka memperlakukan yang  lemah dengan semena-mena, yang berkuasa sering mengabaikan hak yang lemah yang lebih menyakitkan itu di lakukan oleh orang bangsa kita sendiri. Tapi kita para pejuang tetap berharap akan ada  pemuda-pemuda yang nanti akan mewarisi semangat kita para pejuang,  mencintai Negeri ini dengan penuh  ketulusan tanpa  mengharapkan iming-iming apapun.”  Dia kembali memandang matahari

Aku mencoba memberanikan diri bertanya dengan sosok gagah di dekatku ini  “Tapi apa yang bisa di lakukan oleh anak muda yang bahkan tidak tamat SMP sepertiku” tanyaku padanya

dia masih memandang matahari, aku berharap dia akan menatapku lagi dan aku bisa memandang kedua bola matanya. 

“Dengan apapun yang bisa kamu lakukan. Kamu pikir dengan membantu ibumu membuat kue dan gorengan setiap pagi bukan pahlawan? Dengan menjadi pemulung dan memunguti sampah-sampah botol plastik bukan pahlawan? Yang bisa menjadi pahlawan itu bukan hanya orang yang mempunyai kekuasaan, kamu bisa lihat sendiri kan, kebanyakan dari mereka jadi lupa diri karena kekuasaan. Itu yang disebut pahlawan? Pahlawan adalah orang yang mencintai negeri ini dengan tulus tanpa mengharapkan iming-iming apapun. Pahlawan adalah orang-orang yang bekerja dengan tulus, berharap apa yang dia lakukan bermanfaat bagi orang di sekitarnya, Itulah Pahlawan.”

 Aku tertegun mendengar kata-katanya. Aku tak bisa berkata apapun, bibirku rasanya terkunci karena ucapannya. Kulihat kedua bola matanya berkaca-kaca. Oh.. betapa inginnya aku membuat dia bangga padaku.

“Mulai sekarang lakukan apapun yang bisa bermanfaat bagi dirimu dan juga bagi orang lain, minimal bagi orang-orang di sekitarmu, karena saat ini yang Indonesia butuhkan adalah orang yang mau membantu membangkitkan Indonesia. sekecil apapun perannya maka akan sangat besar artinya.

@@@
            Allahuakbar…Allahuakbar…. Adzan subuh berkumandang mengajak manusia menghadap Tuhannya. Aku terbangun seluruh tubuhku basah oleh keringat, kudapati gambar Jenderal sudirman tetap kudekap didadaku, aku baru tersadar bahwa aku barusan bermimpi bertemu denganya, bertemu dengan sang Jenderal yang gagah perkasa. Aku tersenyum bangga,  Karena aku telah bertemu dengan idolaku itu, Meskipun hanya dalam mimpi. sekarang aku dapat dengan gagah menyongsong hari-hariku karena ternyata  apa yang selama ini aku lakukan dapat bermanfaat bagi orang lain, ya… mengambil sampah- sampah botol plastik membantu  tempat kelahiranku ini terlihat bersih.
           
Aku mengangkat kedua belah tanganku  “Ya Allah terima kasih atas semua yang telah engkau berikan padaku.” Tanpa ku sadari kedua bola mataku meneteskan air mata.
            Aku beranjak dari tempat tidur untuk mengambil wudhu, perasaanku begitu menang pagi ini. Aku merasakan ada semangat yang berkobar dalam dadaku.  “Ya… semangat ini yang aku butuhkan.”  lirihku sambil tersenyum.