Rabu, 10 Agustus 2011

Ku Temukan Cintaku di Sapporo


 Langkahku terasa lelah, semua yang  terlihat tampak putih. Gumpalan salju terus turun dan menjadikan kota Sapporo serba putih. Aku berjalan menuju  sebuah restoran  untuk menemui seorang klien. Entahlah, apakah benar sebutan itu, mungkin tepatnya  pembeli kehangatan  di kota yang sedang dilanda  kedinginan ini.

Langkahku tampak gontai, meskipun kucoba semburatkan senyum di wajahku, hingga tampak kedua lesung pipit  di wajahku. Tapi hatiku terasa benar-benar terluka di kota indah nan menawan ini.  Aku ingat ketika aku kelas tiga SMA, guru sejarahku sering bilang kalau orang-orang Jepang tidak bisa hidup tanpa Indonesia, begitu katanya.   Makanya, dulu jepang mati-matian mempertahankan Indonesia sebagai tanah jajahannya. Hal ini tetap berlangsung hingga sekarang  Jepang tetap menjajah Indonesia dengan menjadikan Indonesia sebagai tempat pembuangan industri. Kasihan sekali negeriku.  Mereka ambil  bahan industri  dari negeri yang disebut kaya raya dan setelah jadi, hasilnya  mereka buang kembali ke tempat asalnya.

Aku terlena di kota dingin di utara Jepang  ini. menikmati keindahan kota setiap malam, dijendela hotel berbintang, benar-benar kehidupan yang indah. Tapi hatiku benar-benar  terluka. hatiku  membeku, terasa begitu sulit untuk mencair. Seharusnya aku bangga bisa memberikan kehangatan di setiap dinginnya malam pada  pria-pria Jepang yang baik hati itu. Bahkan Palto yang mereka pakai tak mampu menyaingiku dalam memberikan kehangatan.


                   @@@
Terasa lelah tubuhku menjadi seorang penghibur, sebagian orang-orang disekelilingku menyebut pekerjaanku sebagai geisha. Mereka tidak tahu, kalau aku bukan menjual kemampuan seniku tapi menjual seonggok daging bagi para pemangsa kehangatan. Sedikit bernyanyi – nyanyi kecil  dan sejurus kemudian pindah tempat kerja ke hotel berbintang.

                                          @@@
Aku bergegas kembali ke apartemen, menyusuri sebuah jalan di kota Sapporo yang berselimut salju. Sesampainya di apartemen, aku melihat seseorang berwajah asli Indonesia tersenyum manis padaku. Aku tak mau ambil pusing, tak penting kita satu negara atau bukan. toh, dia tak akan peduli padaku yang kotor ini. Aku  hanya memberikan senyum getir padanya.

Ohayou gozaimasu!”

Belum sempat dia menjawab sapaanku, aku langsung bergegas masuk kamar dan menutup pintu. Hari ini benar-benar hari yang tidak kusangka, aku bisa bertemu dengan pria Indonesia. Meskipun bukan hanya sekali ini aku bertemu denga pria Indonesia,  tapi senyumannya benar-benar terlihat begitu tulus. Pria- pria Indonesia yang pernah aku temui biasanya mahasiswa. pada awalnya mereka akan tersenyum manis padaku, tetapi setelah mereka tahu siapa aku sebenarnya, mereka akan memalingkan muka ketika bertemu  denganku.

                                          @@@
Dinginya kota Sapporo membawa alam bawah sadarku melayang - layang ke angkasa.  Terasa diatas angin, ringan dan hampa.  Aku tertidur pulas, menghilangkan sejenak semua beban pikiranku yang selama ini menyiksaku.

Jam wakerku berbumyi menunjukkan pukul 12 siang.  Setelah tidur dari jam 7 pagi, aku merasa badanku sedikit lebih segar.  Aku keluar kamar, kemudian ku lihat pintu kamar pria itu. Kamarnya bertepatan di depan kamarku.  Tanpa aku sadar ternyata dia telah berada didekatku. Entahlah dari mana datangnya. Aku pikir dia baru membeli beberapa makanan ringan di minimarket di sekitar apartemen kami.

“O genki desuka?” tanyanya padaku

“Genki desu” jawabku  secukupnya

Aku langsung pergi meninggalkanya. Aku mau membeli makanan  di mini market sekitar apartemen. Aku mau  membeli beberapa mie instan dan juga beberapa minuman untuk menghangatkaan tubuh.  Sesampainyaa aku di apartemen, aku melihat dia berdiri di depan pintu kamarku. Dia tersenyum memandangku. Aku membalasanya dengan senyum getir.

Anatawa Indonesia jin desuka?” Tanyanya padaku

"Hai, Indonesia jin desu?” jawabku padanya dengan hanya memandang wajahnya sekilas.
Tampak senyum kebahagiaan di wajahnya.

“Perkenalkan nama saya Arif ” ujarnya penuh semangat

“Zaskia  Azzahra” jawabku

Senyumnya begitu tulus. Dia tampak begitu bahagia. tapi apakah senyum itu akan sama, kalau dia tahu siapa aku sebenarnya. Dia pasti sama seperti orang Indonesia yang pernah aku temui, memalingkan wajahnya ketika mereka tahu aku yang sebenarnya. Tanpa aku sadar bulir air mataku menjatuhi pipiku.

“Kenapa ada yang salah dengan kata-kataku?” tanyanya, dia tampak begitu  bersalah.

“Sama sekali tidak. Aku hanya sedikit kelelahan. Aku mau masuk kamar dulu, permisi.” Aku meninggalkannya, tampak jelas kebigungan diwajahnya.


                                           @@@

Aku berjalan menyusuri  sebuah jalan di kota Sapporo menuju apartemenku. Hari ini aku mau jalan kaki saja karena hotel tempatku menjamu klien  tidak terlalu jauh dari apartemenku.  aku tak mau naik bus, aku mau menikmati udara kota indah nan menawan ini.

Gumpalan  salju bagai kapas nan putih, terus turun membuatku mengigil, paltoku ketinggalan di kamar hotel, aku tak mau mengambilnya. aku nikmati saja kasih sayang salju pagi ini.
Terdengar langkah kaki debelakangku, ternyata si pria Indonesia itu. Dia tampak berjalan bergegas kearahku.

“Pakailah palto ini!” ujarnya dengan sopan

“Tidak usah terima kasih” jawabku

“ please, take this palto!”
pintanya padaku. terlihat sekali dia ingin menolongku dengan  tulus. Sejurus kemudian aku mengambilnya. Tubuhku benar-benar sedikit mendapatkan kehangatan. Hatiku benar-benar terasa beda pagi ini. Perasaan ini sudah lama tak ku rasakan  ‘rasa dihargai’ aku benar-benar terharu.

Aku mencoba memulai obrolan pada pria baik hati ini. “minggu depan akan ada snow festival di taman Odori kalau kamu mau menonton, aku bisa menemani. Tapi kamu jangan salah paham!  sudah seharusnya kita saling peduli sesama orang Indonesia”

“Tentu saja aku tidak akan salah paham, bagaimana bisa aku berpikir seorang perempuan cantik sepertimu akan menyukaiku. He… he… akukan jelek.” Ujarnya
Aku tersenyum mendengar pengakuannya yang jujur itu.

“O ya, disini juga ada taman Maruyama, taman itu di pusat kota, tapi tidak tepat dijantung kota seperti Odori. Tempatnya indah sekali ada danau kecil tempat orang naik perahu di musim panas, taman itu juga pusatnya barang-barang loakan. Kalau dimusim dingin, taman itu  dijadikan tempat cross country ski sederhana.”
 Akhirnya kami sampai di apartemen. Terasa begitu cepat sekali, rasanya aku masih ingin ngobrol berdua dengannya.



      @@@

Malam ini klienku tidak jadi minta dilayani karena ada pekerjaan  mendadak, dia mengantarku pulang. Setelah sampai di depan apartemen, dia membukakan pintu mobil untukku. Sejurus kemudian mencium keningku. rasanya hatiku ingin berontak menolaknya tapi apa dayaku, aku dapat makan dari pria-pria seperti inilah.  Aku memandangi mobil itu hingga hilang dari pandangan.  Ketika aku berbalik, Arif berdiri tepat di hadapanku.

“Aku melihat pria setengah baya itu mencium kamu dari jendela. Aku turun karena aku ingin memastikan kebenaran. Apakah dia pacar kamu atau bahkan suami kamu?” tanyanya dengan raut wajah penasaran.

“ Um… dia bukan pacarku, kita hanya teman dekat saja,  maaf aku harus segera ke kamar.”
 Aku bergegas pergi. aku tak mau dia bertanya lebih banyak lagi. Sejujurnya aku takut kalau dia mengetahui siapa aku yang sebenarnya. Aku takut dia akan berlaku sama seperti orang Indonesia lainnya yang pernah aku kenal di kota Sapporo ini.


                                            @@@
Pukul 20.00 aku keluar dari kamar aku sangat berharap kalau Arif tidak mendengar langakah kakiku. Secara pelan-pelan aku berjalan menuju tangga. Tiba-tiba terdengar suara Arif menyapaku

“ Konbanwa”

Aku terkejut sekali, aku membalikkan tubuhku. Sekarang kami berdua berhadapan dalam jarak yang cukup dekat.

“Zaskia san doko e ikimasu ka?”

“ Watashiwa resuturan e ikimasu”

“Nande ikimasu?”

“ basude ikimasu, osakini shitsureishimasu!”

Aku bergegas meninggalkannya, dari wajahnya sepertinya dia ingin ngobrol banyak denganku. Sebenarnya aku pun ingin ngobrol banyak dengannya. Tapi malam ini aku ada janji dengan klienku di restorant. jadi, aku harus bergegas pergi.

                                           @@@
Setibanya di restaurant, aku melihat klienku duduk di meja nomor tiga. Aku segera mendekatinya.  Klienku kali ini belasteran jepang dan inggris. Dia begitu tampan. Kulitnya putih dan tampak sangat terpelajar. Yang aku tahu dia tidak begitu bahagia hidup dengan istrinya yang seorang  sekretaris sebuah perusahaan ternama di jepang. Kegiatan istrinya yang terlalu padat membuatnya mencari kasih sayang diluar rumah. Tentu saja aku orang yang tepat memberikannya kasih sayang. Meskipun hatiku sebenarnya terluka karena aku hanya seperti pelarian dan tempat pelampiasan nafsu.

Ketika kami sedang  tertawa-tawa, tiba-tiba datang seorang perempuan muda dan langsung melayangkan tangan diwajahku.

“What the hell are you doing with my husband?” Muka perempuan itu tampak marah sekali.  Aku paham pasti dia istri dari klienku.

“ Honey….I’m so sorry, we go home now.”  Klienku menarik tangan istrinya  dan pergi meninggalkanku begitu saja.”

Aku menghela napas panjang, aku tidak bisa menbayangkan bagaimana nasib keluarga mereka selanjutnya. Dalam hatiku yang paling dalam, jujur aku merasa sangat hina. Karena banyak keluarga yang istrinya minta cerai karena ketahuan suami mereka berhubungan denganku.  Aku malu sekali,  ternyata banyak yang memperhatikanku. Aku benar-benar terkejut ketika aku melihat Arif di meja nomor sebelas.  Aku bergegas berlari ke luar restaurant sambil menangis.
Arif mengejarku, namun aku berlari sekencang mungkin. Setelah lumayan jauh aku berlari, aku kehabisan tenaga.  Ku lihat dia semakin dekat denganku. Aku pasrah saja, aku akan menerima apapun makiannya padaku nanti.

“ aku tahu siapa kamu sekarang!” ujarnya dengan napas terengah-engah

“ PSK,  itu kan yang mau kamu katakan?!”

Bulir air mataku  membasahi kedua pipiku. Isak tangisku pecah saat itu juga.
Sesekali aku memandang kearahnya,  tampak gurat penyesalan dimukanya.
   
“Maaf, aku tidak bermaksud begitu, aku benar-benar minta maaf. Aku tidak akan menganggap  kamu rendah seperti yang lain. Tapi aku mohon berhenti dari pekerjaan ini.”

 “Terus  bagaimana aku bisa bertahan hidup disini. Aku mau makan apa, dan mau tinggal dimana kalau aku tidak bekerja.” Isak tangisku  kelihatannya begitu menyakitkan buatnya.

Begitu ada bus datang aku langsung naik bus, aku meninggalkannya dipinggir jalan. Aku benar-benar malu dengannya. Aku malu dengan pekerjaanku.

                                           @@@
Salju terus turun dan tampak begitu putih, aku memandang keluar jendela, merenungkan kapan aku bisa lepas dari semua jerat sandiwara kehidupan. Aku tidak mungkin berhenti dari pekerjaanku, karena kalau aku berhenti, aku tidak bisa mengirim uang untuk kedua orang tuaku dan adik-adikku. Ayahku yang sudah sakit-sakitan tidak mungkin bekerja sedangkan ibuku hanya pembantu rumah tangga. Bagaimana mereka bisa makan dan menyekolahkan adik-adiku.

Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamarku. Aku pikir itu pasti Nadhila, karena minggu lalu kita janjian mau ketemuan hari ini. Nadhila jauh lebih beruntung dari aku.  Meskipun hidupnya pas-pasan tapi dia sangat bahagia menikah dengan seorang  pria jepang.
Aku bergegas membuka pintu, ternyata bukan Nadhila, tapi Arif. Aku mau menutup pintu tapi  dia segera menahan pintunya.

“ aku mau bicara dengan kamu, aku mohon sebentar saja.”

Melihat keseriusan di wajahnya. Akupun akhirnya mau berbicara dengannya.
Setelah beberapa lama kita bicara, ternyata dia telah mengetahui apa pekerjaanku sebenarnya, sebelum dia melihat kejadian di restorant itu. Beberapa hari yang lalu dhila datang keapartemenku, memberitahukan kalau dia tidak bisa datang hari ini. Dia dan Arif  berbincang panjang lebar  tentang bagaimana kita berdua bisa sampai di kota ini dan bagaimana kehidupan kita selanjutnya. Air mataku berlinang. aku benar-benar malu. Tapi dia memang beda dengan yang lain. Dia tidak mengangapku rendah, malah prihatin dengan keadaanku. Malam itu dia sengaja membuntutiku untuk memastikan kebenaran ucapan dhila.     

“Aku akan menikahi kamu” ujarnya dengan lantang.

Aku tersentak mendengar ucapannya.  Tapi dia kelihatan begitu tulus mengucapkan hal itu. Isak tangis ku mulai berhenti dan aku memandang wajahnya meskipun dia berusaha menundukkan wajahnya.

“kamu itu seorang mahasiswa, bagaimana bisa menghidupi seorang istri, terus bagaimana dengan kedua orang tua kamu? apa mungkin mereka merestui kamu menikah saat masih kuliah. Dan bagaimana kalau mereka tahu tentang aku yang sebenarnya.?”

Aku menodongkan semua pertanyaan itu padanya secepat kilat. Jujur,  ada rasa ragu di hatiku meskipun aku melihat ketulusan diwajahnya. Sebagian hatiku mengatakan, bagaimana bisa orang yang belum mengenalku dengan baik, tiba-tiba ingin menikah denganku. Tapi buru-buru aku tepis perasaan itu. Aku berpikir mungkin ini jawaban dari doaku selama ini. Menemukan orang yang tulus mencintaiku, dan menganggap aku layaknya manusia, bukan seonggok daging yang hanya dilahap ketika rasa lapar hawa nafsu muncul.

“Jangan khawatir,  buatku kamu wanita yang baik. Hanya karena korban keadaan, kamu terpaksa melakukan pekerjaan ini. Asal kamu mau berubah dan minta ampunan pada Tuhan, aku yakin  Tuhan pasti memberikan ampunan-Nya untukmu. Terus  aku pikir tidak ada satu alasanpun yang bisa membuatku ataupun kedua orang tuaku merendahkanmu, jika yang punya kuasa atas dunia ini sudah mengampuni dosamu. Lagi pula kedua orang tuaku orang yang sangat demokratis mereka memberikan kebebasan pada anak-anaknya. Mungkin awalnya mereka akan terluka, tapi aku yakin mereka akan bisa menerimanya. Soal bagaimana aku menghidupi kamu, aku akan bekerja sambil kuliah. aku yakin aku bisa, karena rizki itu sudah diatur sama yang diatas.  Jadi, kamu tidak perlu khawatir tentang kehidupan kita dimasa datang.” Ujarnya dengan mata berkaca-kaca.


                                           @@@

Salju hari ini terasa begitu berbeda, terasa hangat.  Dingin yang selama ini selalu dia berikan, seolah berubah jadi  sentuhan kehangatan. Mungkin karena orang yang duduk disampingku saat ini. Orang yang Allah turunkan bagaikan malaikat  bagiku. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi dimasa yang akan datang. Tapi, aku yakin aku akan bahagia bersamanya.  Hari ini adalah hari snow festival. Kita berdua duduk tepat di salah satu bangku taman Odori.
Sungguh hari yang indah dan salju yang bersahabat.  Kota ini sungguh terasa berbeda dari sebelumnya.

Dinginnya salju malah terasa menghangatkan bagiku. Kesedihan karena merasa dijebak oleh agen TKW yang katanya mau mempekerjakanku di sebuah pabrik, yang akhirnya menjerumuskanku pada lembah kelam dunia malam, kini telah berakhir.  Aku bisa duduk berdua dengan seorang malaikat yang akan menuntunku menuju kebahagiaan. Dia telah berjanji liburan musim panas nanti dia akan membawaku pulang ke Indonesia  dan mengantarku ke Sukabumi. Kemudian melamarku, dia telah berjanji kalau dia tidak akan menceritakan pekerjaanku selama di Jepang pada kedua orang tuaku ataupun kepada orang tuanya, karena itu pastikan akan menyakitkan bagi mereka.

Salju putih terus turun, seolah turut bahagia bersamaku, membelai lembut kota Sapporo dengan  sentuhan dinginnya, tanda kasih sayangnya pada penduduk kota Sapporo.

“Salju yang indah di kota yang indah, dan hari yang  indah bagi pemilik dua hati yang saling mencinta. “Terima kasih ya Allah, aku pikir engkau tidak akan membelaiku yang kotor ini lagi. tapi ternyata dugaanku itu salah. Kau mengirimkan malaikatmu padaku. Terima kasih Tuhan.”  Gumamku dalam hati.





~~~~~
Palto: Mantel musim dingin yang sangat tebal
Ohayou gozaimasu: selamat pagi
O genki desuka?: apa kabar/apakah anda sehat?
Genki: baik/sehat
Anatawa Indonesia jin desuka: apakah anda orang Indonesia
 Hai Indonesia jin desu: iya saya orang Indonesia
Zaskia san doko e ikimasu ka? : Zaskia mau kemana?
Watashiwa resuturan e ikimasu: Saya (mau) pergi kerestoran
Nande ikimasu? : Pergi (naik)  apa?
basude ikimasu: pergi naik bis.
osakini shitsureishimasu: Saya permisi dulu
Geisha: wanita yang menjual kemapuan seninya misalnya main alat music baca puisi dsb ( bukan PSK).








Tidak ada komentar:

Posting Komentar