Minggu, 12 Februari 2012

Hah... Hukuman Itu Lagi

                        HAH…. HUKUMAN ITU LAGI?

Hari ini adalah hari pertama aku masuk kuliah. Aku sangat deg-degan, terutama hari ini adalah hari pertama aku mengikuti Ospek. Aku sering mendengar kalau senior sering berlaku sewenang-wenang pada juniornya, hal itulah yang membuatku sangat takut. Ketakutanku sangat beralasan karena waktu aku menjalani masa orientasi ketika SMP, aku pingsan karena disuruh membersihkan WC siswa yang baunya bahkan tidak akan hilang meskipun dibersihkan selama tiga hari. Saat itu aku dihukum karena lupa membawa tas karung yang merupakan syarat selama mengikuti MOS.
                                                            ***
Semua mahasiswa baru berkumpul di bawah sebuah tenda yang telah disediakan oleh panitia Ospek. Setelah beberapa saat mendapat pengarahan oleh panitia, semua mahasiswa baru mengikuti  panitia dari masing-masing fakultas.  Saya dan Nia teman yang baru saya kenal ketika sama-sama melakukan registrasi ulang mengikuti panitia Ospek dari Fakultas Ekonomi. kebetulan kita berdua juga berada di jurusan yang sama yaitu jurusan ekonomi manajemen.

Kami semua berkumpul di sebuah  lapangan, terdengar suara yang sepertinya aku kenal tapi aku pikir tidak mungkin pasti hanya perasaanku saja, karena ketakutanku menjalani Ospek. 

Aku berbisik pada Nia, “Siapa yang sedang berbicara didepan?” tanyaku padanya.
Ternyata dia pun tidak tahu karena di belakang kami tidak bisa melihat.

Aku mencoba menanyakan pada mahasiswa yang berada didepan  kami, “maaf mau tanya yang berbicara di depan itu siapa ya”

“Itu  Kak Satria, dia itu Gubma Mbak,” jawabnya dengan aksen Jawa yang medok.

“Oh… Gubma”
Gubma adalah sebutan untuk gubernur mahasiswa yang memimpin organisasi tertinggi di fakultas yang biasa disebut  BEM atau badan eksekutif mahasiswa. bukannya pura-pura tidak tahu tapi aku dan Nia memang benar-benar tidak tahu, dari tadi kami tidak bisa fokus karena cuacanya sangat panas, terlebih lagi posisi kami berdua yang berada dibelakang. Jadi, tidak bisa melihat orang yang sedang berbicara di depan. Yang terbayang di pikiranku hanyalah bagaimana caranya aku bisa pergi dari sini dan mendapatkan sebotol minuman.

Selesai mendapatkan pengarahan kami disuruh berkumpul pada  PJ masing-masing sesuai dengan yang telah ditentukan ketika TM (technical meeting). kebetulan aku dan Nia dalam satu grup yang sama, grup pantang mundur.  Celakanya hari itu aku lupa membawa kalung yang terbuat dari bawang merah dan bawang putih. Aku baru ingat kalau aku menaruhnya di bawah kolom tempat tidur selesai membuatnya. Aku tidak menyukai bau bawang putihnya makanya aku taruh saja disana.

Aku benar-benar deg-degan, yang ada dalam pikiranku jangan sampai aku disuruh membersihkan WC karena aku benar-benar benci hukuman itu.  Aku berbisik pada Nia kalau kalungku ketinggalan.  Akhirnya dia memberiku solusi untuk sementara waktu aku tinggal di            WC pura-pura mau pipis setelah pemeriksaan peralatan selesai aku keluar. Aku terima saja sarannya Nia, karena aku pikir tak ada cara lain dari pada nanti sampai ketahuan. Aku minta izin pada PJ mau pergi ke WC. kira-kira 15 menit aku dalam WC, aku benar-benar tidak tahan lagi dengan baunya. Akhirnya aku keluar celakanya aku berpapasan dengan seseorang yang memakai baju panitia Ospek. Aku lihat lagi orang itu tapi semakin aku memandangnya semakin terasa kalau aku mengenalnya. tidak salah lagi dia Satria anggota OSIS yang menghukumku membersihkan WC beberapa tahun silam. Aku lihat lagi wajahnya tampak sunggingan senyum di bibirnya. Aku benci sekali senyum itu karena itu adalah senyuman yang sama ketika dia menghukumku membersihkan WC ketika SMP. Aku dimintanya menghadap PJ grup pantang mundur.  Setelah sampai, dia bertanya dengan gaya  khasnya yang sok keren. Hah… benar-benar  gaya yang tidak berubah, tetap menyebalkan.

“Kenapa kamu tidak bergabung dengan teman-temanmu dan mana peralatan Ospek kamu?” tanyanya dengan nada menbentak.

Aku terdiam sesaat, tubuhku gemetar,  yang ada dipikiranku pastilah aku disuruh membersihkan WC lagi sama orang sinting ini.
” Maaf tadi aku ke WC karena kebelet pipis.”

“kamu kalau pipis lamanya sampai 15 menit. tadi PJ kamu melapor karena kamu masih belum kembali. Kenapa kamu tidak pakai kalung seperti yang lain?”
Bentakannya lebih keras dari yang tadi.

“Kalungya ketinggalan. Aku minta Maaf.”  Nada suaraku terdengar memelas dengan harapan dia bisa memaafkanku.

“Maaf kamu bilang, itu namanya kamu tidak disiplin, tidak menghargai panitia. kamu harus dihukum,  hukuman yang tepat buat kamu adalah…”

Belum selesai dia mengucapkan kata-katanya aku langsung angkat bicara “Membersihkan WC kan? tidak perlu dijelaskan lagi,” dasar orang sinting gumamku dalam hati. Rasanya aku ingin sekali mengatakan kata-kata itu pada orang sombong ini.

Selama membersihkan WC selama itu pula aku  mengoceh tidak karuan. Aku benar-benar benci hukuman ini dan aku juga benci orang yang memberikan hukuman ini.

***
Setelah beberapa minggu kuliah aku mendapat tugas mewawancarai Gubma dengan bahasan bagaimana cara memimpin organisasi yang baik. Benar- benar tugas yang menyebalkan. Kenapa aku mendapat tugas yang berhubungan dengan orang sinting itu lagi.

“Semua ini  gara-gara aku tidak masuk kuliah  rabu kemarin, jadi mau tidak mau cuma itu saja pilihan yang tersisa.

“Enaknya Nia kebagian tugas mewawancarai ketua Rohis, mereka pasti berpikir kalau mereka mengambil tugas mewancarai orang sinting itu bakalan banyak hukuman yang didapat. “Sialnya,” gumamku dengan perasaan kesal”

Setelah mendapatkan alamat kostnya aku langsung menuju kostan si Gubma sinting itu. Seperti yang kubayangkan ini tidak akan menjadi hal yang mudah. Aku mengetuk pintu kostannya, dia membukanya dan langsung menutupnya kembali. Setelah aku memohon-mohon di luar pintu sambil menjelaskan tujuanku tanpa memperhatikan orang-orang disekitar kostan yang sedang memperhatikanku. Aku terus memohon dan akhirnya dia bersedia membukanya dan mengizinkanku masuk.

***
Setelah beberapa hari aku bersamanya ternyata dia tidak seburuk yang aku bayangkan. Memang sih hobinya menghukum orang dan nyuruh-nyuruh tapi dia orangnya cukup baik meskipun bukan sangat baik tapi setidaknya dia cukup mau diajak kerja sama. Pada awalnya dia tidak begitu peduli padaku karena menurutnya aku ini bukan orang yang disiplin dan taat peraturan

Sejak aku mendapatkan tugas mewawancarainya kita berdua cukup dekat Terlebih lagi karena aku suka meminjam bukunya karena kita satu jurusan meskipun dengan berbagai syarat bukunya tidak boleh robek,  tidak boleh ada coretan dan bla…bla… memang menyebalkannya itu tidak mungkin bisa hilang. Aku pikir  kebiasannnya membuat orang kesal adalah  bawaan lahir. Jadi tidak bisa dihilangkan.


***
Hari minggu Satria mengajakku ke sebuah taman pinggir kota, aku sempat menebak-nebak apa yang mau ia katakan padaku sehingga harus membicarakannya di taman. Apa mungkin dia ingin melampiaskan kekesalannya karena meskipun dia memintaku untuk memanggilnya kakak aku tidak pernah melakukannya. Dari SMP aku memanggilnya dengan panggilan Satria meskipun dia merupakan kakak kelasku saat itu dan saat ini aku tetap memanggilanya dengan sebutan Satria mungkin karena kebencianku yang telah mendarah daging makanya aku tidak bisa memangillnya kakak.

 Kulihat dia ketika aku baru memasuki pintu taman, dia duduk di bangku yang di depannya terdapat tanaman mawar. Aku menghampirinya  dan memanggilnya dengan lembut, hal yang tidak pernah kulakukan selama ini padanya. Dia menoleh kebelakang dan terlihat sekali matanya berkaca-kaca dan wajahnya bereri-seri persis seperti bunga mawar yang ada didekatnya. Aku berpikir lagi pertanda apakah ini, dia bahkan jarang tersenyum padaku tapi kali ini dia tersenyum dengan tatapan yang sangat lembut.

“ Duduklah.” Sapanya denga lembut

Aku masih kebingungan dengan sikapnya yang tak biasa itu. Otakku tak mampu menerka apa yang mau dia lakukan. Sepertinya otakku berhenti berfungsi. Entahlah… aku semakin bingung dibuatnya. Dia sepertinya tahu kalau aku sedang bingung dengan perubahan sikapnya.

“Kamu bingung ya? aku mengajak kamu kesini karena aku mau mengatakan sesuatu yang sangat penting sama kamu, hal ini sudah lama ingin aku katakan. Semenjak kedekatan kita karena tugas wawancara, aku mulai yakin kalau kamu adalah cewek yang bisa diandalkan, bisa dipercaya, dan penuh kasih sayang. Ya meskipun pada awalnya pikiranku tentang kamu sangat buruk.” Ujarnya dengan nada suara yang  pelan,

Jantungku berdegup dengan kencang, menanti-nanti apa dia ingin mengungkapakan rasa sukanya sama aku, setelah dia sadar kalau aku bukanlah cewek yang selama ini seperti yang dia anggap, tidak disiplin dan tidak taat aturan. Semenjak mendapat tugas mewawancarainya aku merasa perasaan benciku lama-lama berubah jadi sayang, karena aku sering kangen dengan ocehannya kalau sedang tidak bersamanya.  Tubuhku terasa semakin gemetaran menunggu kata-kata yang akan keluar dari mulutnya.

“Bella sebenarnya aku… aku mau kamu….”

“Iya kamu mau apa? Cepat katakana. aku akan  dengan senang hati menerimanya” ujarku dengan mata yang berbinar-binar sembari disertai sunggingan senyum di bibirku. Itu adalah senyum termanis yang pernah aku berikan pada  makhluk yang namanya laki-laki.

“Baiklah kalau begitu, kemarin kedua orang tuaku membelikan aku rumah. Ya, meskipun sedikit tua tapi masih lumayan bagus, kedua orang tuaku melakukannya agar saat mereka mengunjungiku tidak harus tidur di kostan yang sempit lagi. Aku rasa kamu adalah orang yang bisa diajak berbagi dalam kehidupanku baik susah maupun senang kelak.” Ujarnya sambil menatapku

Aku benar-benar terharu, ternyata dia sudah berpikir sampai  ke sana. Aku pikir itu adalah rumah yang kelak kami akan tinggali setelah menikah. Oh… So sweet

“Bel, dari tadi kamu minta aku mengatakannya kan? Aku mohon kamu mau bersamaku membersihkan rumah itu, karena rumahnya sangat kotor, terutama WCnya benar-benar bau. Aku pikir kamu adalah orang yang cocok untuk membersihkannya.”

Setelah mendengar kata-kata itu yang terbayang dipikiranku hanyalah WC yang baunya tidak bisa hilang meski tiga hari dibersihkan. Aku merasa badanku lemas dan kemudian tidak ingat apa-apa lagi.  Terasa bau minyak kayu putih disekitar hidungku ternyata aku pingsan dan wajah pertama yang aku lihat adalah wajah Satria. saat melihat wajahnya aku langsung teringat WC. Seketika itu juga aku berdiri dan berteriak
                                    “Kabuuuuuuuuuuuuur………………………..”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar