Bertemu Sang Jenderal
Kegelapan malam segera di lumat
oleh cahaya siang. Tampak matahari dengan gagahnya menantang dunia, menunjukkan keperkasaanya dan seolah-olah
menyampaikan pesan bahwa tak ada satupun di dunia ini yang mampu menyaingi keperkasaannya.
Seperti biasa, pagi ini emak sudah siap-siap mau berkeliling menjual kue dan gorengan. Ku perhatikan lagi tubuh emak yang sudah rentah itu, dia pun menatap ku balik
“Jangan memandangi emak
begitu, ayo siap-siap! Rahmat mau cari botol-botol plastik juga kan hari ini?”
Ujar mak dengan sunggingan senyum di
bibirnya
Aku mengangguk saja, batinku rasanya
mau menjerit. Ku tahan air mata yang hampir jatuh di kedua bolah mataku, aku
tak mau mak tahu tentang kesedihanku. Aku tahu kalau hidupnya
sudah kumpulan penderitaan, aku tak perlu menambahnya lagi. Emak adalah sosok seorang ibu yang selalu
kuat meskipun terkadang ku tangkap raut wajah kelelahannya. Terkadang jualan emak sama sekali tak laku, karena emak harus bersaing dengan penjual-penjual
lainnya yang umurnya jauh lebih muda sehingga energi dan semangat mereka lebih
besar dalam berjualan. Namun emak tak
penah mengeluh sedikitpun. Ya, semenjak bapak meninggalkan kami mengahadap yang
kuasa, emak dan aku harus berjuang
keras menjalani kehidupan yang selalu menunjukkan taringnya pada yang lemah.
@@@
Semua orang sibuk dengan kegiatan
masing-masing, mereka tak saling pedulikan. Mahasiswa-mahasiswa yang bergegas
mengejar angkot karena takut telambat, Orang-orang yang berlalu lalang seolah waktu 24 jam tak cukup untuk
menyelesaikan pekerjaannya. Tampak riuh di pasar pagi Timbangan, terdengar
dengan jelas orang-orang menawar harga
sayur-mayur yang harganya dianggap terlalu mahal. Ya… begitulah suasana kota
Indralaya, yang didalamnya terdapat banyak mahasiswa UNSRI yang intelek. Aku selalu berharap mereka
nanti dapat mengubah nasib bangsa yang
sudah carut marut ini.
Aku berjalan menyusuri jalan di
Timbangan, berharap akan banyak botol-botol plastik yang aku temukan, Sehingga malam
ini perutku tidak akan mengoceh karena haknya yang tak terpenuhi.
Aku
berbisik pada perutku “Jangan mengeluh terus, aku saja tidak mengeluh
pada Negara ini yang katanya fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh
Negara. Menurutku jangankan di pelihara, diperhatikan saja tidak. Tapi aku
maklum, mungkin orang-orang diatas sana pada sibuk semua mengurusi Negara. Mungkin.. ya, masih Mungkin.”
Aku
sering berimajinasi, masuk dalam salah satu barisan mahasiswa UNSRI yang berorasi menuntut kesejahteraan pada
Negara ini. Tapi ah… sudahlah, Sejak aku berhenti kelas dua SMP, aku mau
mengubur mimpi-mimpiku, mimpi menjadi salah satu yang bisa membangkitkan Negara
yang sedang tertidur pulas ini. Mimpi bisa seperti pak Sudirman yang menaruhkan
jiwa dan raganya demi bangsa tercinta ini. Jujur, dalam lubuk hatiku yang
paling dalam, kecintaanku pada sosok perkasa itu tak pernah mati, meskipun aku
berusaha mengubur mimpi-mimpiku.
Tiba-tiba Langkahku terhenti di
depan sebuah warnet, aku melihat sebuah makalah dalam kotak sampah, ku dekati
perlahan, kemudian ku ambil makalah tersebut. Sekejap kulirik orang-orang di
dalam warnet yang memperhatikanku, aku pura-pura cuek saja, aku tahu di pikiran mereka pasti alangkah kasihannya anak seumuranku
bekerja sebagai pemulung. Ya, seharusnya
sekarang aku duduk di bangku kelas dua SMA. Tapi sudahlah… aku bergegas pergi,
aku tak mau di kasihani. Aku mau mencoba
selalu mensyukuri apapun yang sudah Tuhan berikan padaku.
@@@
Kurebahkan Tubuhku di ranjang yang sudah
tidak layak lagi di di gunakan, aku buka makalah yang tadi pagi aku temukan, setelah
kulihat secara seksama ternyata makalah itu berisi tentang pertempuran di Ambarawa,
betapa terkejutnya aku ternyata
didalamnya terdapat gambar pahlawan yang sangat aku kagumi, Ya… Jenderal
Sudirman. Aku pandangi lagi, oh… ternyata dia makin perkasa, Dia seolah-olah
tersenyum padaku dan aku pun membalas senyumnya dengan senyum termanis yang aku
punya. Aku robek lembar makalah yang di dalamnya terdapat sang jenderal,
kemudian aku letakkan didadaku. Aku menghela napas panjang sembari tersenyum, mensyukuri semua yang telah
ku dapat hari ini.
@@@
Aku duduk di bawah sebuah pohon
Akasia, ku rebahkan tubuhku yang kelelahan karena bekerja seharian mencari
botol-botol plastik. Aku memandang ke langit, melihat gumpalan-gumpalan Putih
di langit, yang membentuk berbagai macam rupa, ku imajinasikan gumpalan putih
itu membebentuk wajah teduh emak.
kemudian aku mengimajinasikan gumpalan
putih di sampingnya menjadi sosok idolaku, tapi tiba-tiba muncul seseorang, dia
berdiri menundukkan kepalanya
memandangku dengan begitu tajam.
Aku terkejut jantungku begitu cepat berdetak. Aku segera berdiri dan mencium
tangannya. Oh… terasa begitu hangat. Dia mengajakku berjalan-jalan sambil
mengobrol, aku terheran-heran memandangnya, sepertinya ia benar-benar tahu
siapa aku padahal kita belum pernah bertemu sebelumnya. Dia mengajakku duduk di
sebuah lapangan kemudian memandang
matahari, aku memandang raut mukanya
dengan penuh kekaguman.
“Rahmat, kamu mencintai negeri
ini?” tanyanya padaku, aku terkejut dia tahu namaku padahal aku belum memberi
tahunya.
“Iya, aku sangat mencintainya”
Jawabku sambil memandang wajahnya yang tetap fokus memandang matahari.
“Apa bukti kalau kamu cinta pada
negeri ini?” Tanyanya lagi padaku
“Bukti…” Aku kebingungan mau
menjawab apa, raut mukaku menjadi muram
“Kamu bingung? mencintai bukan
berarti tanpa pengorbanan, kalau kamu mencintai negeri ini maka buktikan.”
“Aku tidak bisa membuktikan dengan apapun, aku juga
tidak bisa melakukan apapun, aku ini hanya anak putus sekolah yang harus
menjadi pemulung demi mencukupi kebutuhan keluarga.” Ujarku dengan menundukkan
muka.
“Kau menyesal putus sekolah dan
menjadi seorang pemulung?” Kali ini dia memalingkan pandangannya dari matahari
dan menatap wajahku.
Aku mengangguk
perlahan, kedua bola mataku tak bisa berpaling memandangnya.
“Kau tahu dengan harapan apa para
pejuang rela mempertaruhkan jiwa dan harta mereka, Mat?”
Dia memandangku semakin tajam, kedua bola
matanya menggambarkan keperkasaannya. Aku tidak mampu berkata apapun.
“Dengan harapan agar anak cucu
mereka tidak mengalami nasib yang sama seperti mereka, tidak mengalami yang
namanya pengekangan kebebasan, pengambilan hak, dan agar tidak di perlakukan
semena-mena, tapi apa yang terjadi sekarang? yang kuat suka memperlakukan yang lemah dengan semena-mena, yang berkuasa
sering mengabaikan hak yang lemah yang lebih menyakitkan itu di lakukan oleh
orang bangsa kita sendiri. Tapi kita para pejuang tetap berharap akan ada pemuda-pemuda yang nanti akan mewarisi
semangat kita para pejuang, mencintai
Negeri ini dengan penuh ketulusan tanpa mengharapkan iming-iming apapun.” Dia kembali memandang matahari
Aku mencoba memberanikan diri
bertanya dengan sosok gagah di dekatku ini “Tapi apa yang bisa di lakukan oleh anak muda
yang bahkan tidak tamat SMP sepertiku” tanyaku padanya
dia masih memandang matahari, aku
berharap dia akan menatapku lagi dan aku bisa memandang kedua bola
matanya.
“Dengan apapun yang bisa kamu
lakukan. Kamu pikir dengan membantu ibumu membuat kue dan gorengan setiap pagi
bukan pahlawan? Dengan menjadi pemulung dan memunguti sampah-sampah botol
plastik bukan pahlawan? Yang bisa menjadi pahlawan itu bukan hanya orang yang
mempunyai kekuasaan, kamu bisa lihat sendiri kan, kebanyakan dari mereka jadi lupa
diri karena kekuasaan. Itu yang disebut pahlawan? Pahlawan adalah orang yang
mencintai negeri ini dengan tulus tanpa mengharapkan iming-iming apapun.
Pahlawan adalah orang-orang yang bekerja dengan tulus, berharap apa yang dia
lakukan bermanfaat bagi orang di sekitarnya, Itulah Pahlawan.”
Aku tertegun mendengar kata-katanya. Aku tak
bisa berkata apapun, bibirku rasanya terkunci karena ucapannya. Kulihat kedua
bola matanya berkaca-kaca. Oh.. betapa inginnya aku membuat dia bangga padaku.
“Mulai sekarang lakukan apapun yang
bisa bermanfaat bagi dirimu dan juga bagi orang lain, minimal bagi orang-orang
di sekitarmu, karena saat ini yang Indonesia butuhkan adalah orang yang mau
membantu membangkitkan Indonesia. sekecil apapun perannya maka akan sangat
besar artinya.
@@@
Allahuakbar…Allahuakbar…. Adzan
subuh berkumandang mengajak manusia menghadap Tuhannya. Aku terbangun seluruh
tubuhku basah oleh keringat, kudapati gambar Jenderal sudirman tetap kudekap
didadaku, aku baru tersadar bahwa aku barusan bermimpi bertemu denganya, bertemu
dengan sang Jenderal yang gagah perkasa. Aku tersenyum bangga, Karena aku telah bertemu dengan idolaku itu,
Meskipun hanya dalam mimpi. sekarang aku dapat dengan gagah menyongsong
hari-hariku karena ternyata apa yang
selama ini aku lakukan dapat bermanfaat bagi orang lain, ya… mengambil sampah-
sampah botol plastik membantu tempat
kelahiranku ini terlihat bersih.
Aku mengangkat kedua belah tanganku
“Ya Allah terima kasih atas semua yang
telah engkau berikan padaku.” Tanpa ku sadari kedua bola mataku meneteskan air
mata.
Aku
beranjak dari tempat tidur untuk mengambil wudhu, perasaanku begitu menang pagi
ini. Aku merasakan ada semangat yang berkobar dalam dadaku. “Ya… semangat ini yang aku butuhkan.” lirihku sambil tersenyum.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar