Pagi itu matahari tak menampakkan sinar keperkasaannya, yang ada hanyalah hembusan angin semilir yang mengirimkan harum bunga mawar keseluruh ruang di rumah sederhana, yang berada di dekat jalan setapak tua yang telah dipenuhi rerumputan, karena termakan usia.
“Zah, kamu kok senyum-senyum sendiri sih nak, ada yang lagi buat hati kamu berbunga-bunga ya?”
“Ibu… gak ada kok bu, aku cuma teringat Raffi aja, aku sama Raffi kan suka banget pagi yang ditemani angin semilir dengan semerbak harum bunga mawar, yang ditemani nyanyian burung-burung diatas pepohonan yang tumbuh disekitar jalan setapak ini.
“Kamu jangan terlalu sering ingat Raffi Nak, kamu kan tahu dia sekarang sudah tinggal di Bandung bersama keluarganya. Apa kamu tidak ingat perkataan ibunya Raffi kepadamu 5 Tahun lalu?”
Air mata Zah mengalir dipipinya yang chubby, kata-kata ibunya mengingatkan akan kejadian 5 tahun lalu saat ibunya Raffi mendatanginya dan mengatakan hal yang seumur hidupnya akan sulit dihapus dalam ruang terdalam di hatinya.
“ Iya bu… Zah ingat kok, tapi apa salah jika Zah selalu ingat Raffi? Meskipun udah bertahun-tahun kita gak ketemu tapi Zah ingat betul gimana suaranya, senyumnya, tawanya dan semua hal yang ada pada dia.”
“Iya, tidak salah kok Nak, tapi keadaan membuat semua rasa kamu jadi salah, kita cuma orang miskin, meskipun miskin itu tidak salah tapi banyak hal yang tidak bisa kita dapat karena kita miskin.”
“Bukannya rizki itu udah diatur sama yang diatas. kenapa mereka suka sekali merendahkan derajat kita. Dulu waktu ayahnya Raffi masih didesa ini dan bertugas sebagai seorang dokter, Raffi sering sekali dimarahi ibunya karena dekat dengan ku yang hanya anak petani. Kenapa sih Bu miskin itu jadi penghalang buat kita untuk melakukan hal-hal yang kita sukai?”
“Sudahlah Zah, ibu tidak mau kamu nanti menjadikan kemiskinan sebagai kambing hitam dari rasa keterbatasan kita. Ibu mau pergi dulu, kamu juga mau mengajar kan? Buruan pergi sana, nanti TK nya keburu bubar.”
***
“ Zah, capek juga ya abis ngajarin tuh anak-anak bandel.”
“Mei gak boleh gitu dong,kita kan udah digaji buat ngajarin mereka, jadi mau gak mau kita harus suka sama mereka.”
“Iya-iya, ah… lagian kamu kan emang suka anak kecil, pantas aja kamu betah ngajar, lah aku ampuuun nyerah ngajarin tuh anak-anak bandel. Oh ya, kamu masih ingat kan sama Raffi.”
Zah terdiam sejenak, ia ingat kata-kata ibunya agar jangan ingat Raffi lagi.
“Raffi ya…?”
“Iya Raffi teman SMA kita yang anaknya dr. Fadlan kamu kan dulu dekat banget sama dia, kok sekarang kayak gak peduli gitu sih.”
“Gak gitu juga, aku masih ingat kok sama dia, emangnya kenapa sama Raffi?”
“Gini, kemarin kan aku sama adikku ke kantor kepala desa ngurusin KTP adikkku, terus beliau kasih tahu aku, kalau Raffi anaknya dr. Fadlan bakalan tugas disini.”
“Tugas apa?” Tanya Zah penasaran
“ Ya gak jauh-jauh dari ayahnya, tugas ngobatin orang sakit ha….ha… tau kan maksud aku. Kabarnya dia juga udah punya seorang istri.” Tukas Mei
kata-kata mei terasa bagai petir yang langsung menyambar hati Zah. tapi Zah mencoba untuk menenangkan dirinya.
”Oh sekarang udah jadi dokter ya, udah punya pendamping hidup, semoga kamu selalu bahagia ya Fi” bisik Zah dalam hati
“Za! Kok malah melamun sih?”
Teriakan Mei membuyarkan lamunan Zah.” Gak, aku cuma ingat jemuran dirumah aja kayaknya hari mau hujan deh. Aku pulang duluan ya.”
***
Zah menelusuri jalan setapak tua menuju rumahnya, hatinya bercampur aduk antara senang dan sakit, senang karena bisa bertemu Raffi yang selama ini ia rindukan tapi juga sakit karena kejadian dulu. Ia ingat sekali saat ibunya Raffi datang kerumahnya dan mengatakan kalau ia tak pantas berteman dengan Raffi, seorang anak petani miskin cocoknya berteman dengan anak petani juga, bukan dengan anak seorang dokter. Yang paling menyakitkan adalah saat ibunya Raffi mengarahkan telunjuknya kearah wajah ibunya dan mengatakan “didik anak kamu dengan baik jangan biarkan dia bermimpi terlalu tinggi, apalagi kalau mimpinya mendekati Raffi anak saya.” Ditambah lagi kabar kalau Raffi sudah menikah itu membuat hatinya semakin teriris-iris.
***
Sesampainya dihalaman rumahnya ia terkejut melihat seorang laki-laki berpakaian seorang dokter duduk di kursi tua diteras rumahnya.
“Raffi……???
“Iya ni aku, aku udah kangen banget sama kamu dan aku yakin kamu pasti kangen banget juga sama aku, iya kan?”
“Ya aku juga kangen sama kamu. tapi... sudahlah lupakan.”
“Aku sengaja datang kerumah kamu dulu, sebelum menemui kepala desa karena aku kangen banget sama teman terbaikku. Suasana desa ini tidak banyak berubah ya, masih sama seperti dulu. Apalagi rumah kamu masih dipenuhi sama pot-pot bunga mawar yang keharumannya membuat kita mau berlama-lama dirumah ini.”
“Fi, gimana kabar kedua orang tua kamu?”
“ Ayah alhamdulillah sehat, kalau ibu… udah meninggal 6 bulan yang lalu.”
“Innalillahi……. maaf ya, kamu jadi sedih.” Zah merasa bersalah menayakan hal tersebut.
“gak apa-apa kok Zah, sebenarnya aku datang kesini mau bilang sesuatu sama kamu.”
“ Mau bilang sesuatu? ya uda bilang aja.”
“Kamu udah punya….maksud aku…..calon gitu deh?” Raffi sedikit gugup menanyakan hal tersebut.
“ maksud kamu pacar atau pendamping hidup gitu ya?”
“Iya… maksud aku itu.”
“ belum, kenapa emang?”
“Aku datang kedesa ini selain mau menjalankan tugas sebagai seorang dokter tapi juga mau kembali dekat sama kamu. Dari dulu sebenarnaya aku udah suka sama kamu dan sampai sekarang pun, rasa itu masih bertahan. Aku sudah bersusah payah agar dapat bertugas didesa ini. dengan harapan bisa dekat lagi sama kamu.”
“Kamu tuh ya Fi, mau mendekati aku saat kamu udah punya istri.”
“ Tunggu, tahu dari mana kamu…?”
“Fi, gak penting aku tahu dari mana, yang pasti hal yang kamu lakuin ini gak cuma menyakiti istri kamu tapi juga menyakiti aku.”
“Tapi aku gak bahagia hidup sama istriku, aku nikahin dia karena ibuku mau dia jadi istriku.”
“Dan kamu nurut gitu aja kan?! Fi, pernikahan itu bukan hal yang main-main, kamu gak bisa melakuan ini sama istri kamu.”
“Istriku udah ngizinin kok, aku udah bilang sama dia kalau aku mau menikah lagi, lagian dia setuju atau gak setuju aku tetap mau melakukan pendekatan sama kamu, habis itu nikahin kamu, karena aku sayang sama kamu.”
“Pernikahan itu bukan cuma berlandaskan cinta kedua belah pihak yang mau menikah, tapi juga harus mempertimbangkan perasaan orang-orang yang akan terluka kalau pernikahan itu terjadi.”
“Zah, istriku itu sakit-sakitan, aku gak tahu sampai kapan aku bisa sabar sama dia, seharusnya dia yang melayani semua keperluanku bukan sebaliknya. Aku mau istri yang sehat yang mampu memberikan kebahagiaan yang seutuhnya tanpa harus merasa tertekan.”
“Itu namanya kamu egois seharusnya kamu pikiran perasaan dia, seharusnya kamu ada didekat dia saat ini. Bukannya malah mendatangi wanita lain dan ngungkapin rasa suka kamu. ini akan membuat perasaannya lebih terasa sakit daripada sakit yang dideritanya.”
“Aku gak peduli, aku udah simpan rasa ini selama bertahun-tahun sekarang aku mau sama kamu, terserah dengan orang lain mau sakit hati atau apalah, aku udah terlalu sakit menyimpan rasa ini selama bertahun-taahun, karena takut ibu marah kalau ia tahu tantang perasaanku, sekarang ibu udah gak ada. aku bebas ngungkapin rasa sayangku sama kamu dan sekarang aku mau jawaban dari kamu, kamu mau gak dekat sama aku dan jadi pendamping hidupku?”
“Gak, aku gak mau, aku juga sayang sama kamu tapi aku gak mau bahagia diatas penderitaan wanita lain, aku gak mau tersenyum bahagia sementara ada seorang wanita yang menangis kerena tersakiti hatinya.”
“Kalau kamu menolak permintaan aku, maka selamanya aku akan benci sama kamu dan hari ini juga aku akan pergi dari desa ini, Aku akan minta untuk ditugaskan ditempat lain,”
“Terserah kamu, aku gak peduli kamu mau pergi atau gak, aku lebih peduli sama wanita yang sekarang menahan rasa sakit karena penyakitnya dan karena pengkhianatan suaminya.”
“Ok, mulai hari ini kamu gak akan pernah melihat aku lagi, dan kamu akan menyesali tindakan kamu ini seumur hidup kamu.”
Raffi meninggalkan Zah dengan rasa kecewa dan wajah yang tampak kesal. ia pergi meninggalkan rumah itu tanpa menoleh kebelakang sedikitpun.
“aku mohon menolehlah kebelakang. Aku mau melihat wajah kamu untuk terakhir kalinya.” Bisik Zah dalam hati.
Tubuh Raffi akhirnya benar-benar menghilang dari penglihatan Zah. Zah meneteskan air mata. Hatinya benar-benar terasa sakit. Lebih sakit dari yang ia rasakan saat ia harus berpisah dengan Raffi yang ketika itu harus pindah ke Bandung.
“Tuhan, dulu hatiku terasa sakit karena harus berpisah dengan Raffi yang saat itu harus pindah ke Bandung. Sekarang hatiku sakit karena menolak dekat dengannya, ini benar-benar lebih menyakitkan Tuhan, saat ia hampir aku dapatkan aku harus melepaskannya demi Wanita lain yang lebih berhak. Tapi aku tahu ini yang terbaik untukku Tuhan.” Zah mengahapus air matanya dan masuk kedalam rumah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar